Senin, 25 Mei 2026

Seri keluarga; Yang Menggugah Hati

Tiga orang adik beradik duduk santai di ruang keluarga. Mereka sedang mendengarkan petuah umi tentang " Larangan bermain game adalah tanda cinta orang tua".
Umi dan anak-anak terlibat tanya jawab yang seru. Umi dengan sabar menjawab semua pertanyaan agar semua alasan bisa diterima oleh akal si kecil. 
Di tengah obrolan, si gadis bungsu tiba-tiba memukul usil kepala si tengah tanpa alasan apa-apa. Niatnya bercanda. Abang yang kesakitan langsung membalas dengan cara serupa.
Obrolan terhenti karena kerusuhan kecil itu. Si sulung yang menyaksikan ulah adik-adiknya lalu melontarkan kalimat pendek yang menggetarkan. " Ingat surat an nahl ayat 126, dek! "
Surat an nahl?? Bercerita tentang apakah itu? 
Umi menyuruh si tengah membuka dan membaca ayat tersebut. 

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ
"Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar"

Umi sangat tersentuh, karena perintah yang spontan terucap dari lidah si sulung. 
Umi pun bertanya, " Tau darimana bang? "
Abang tau dari mudir. Mudir salah satu sekolah sunnah tempat si sulung menimba ilmu. 
MasyaAllah, tausiyah jumat yang hanya 15 menit. Mendengarkan sambil berdiri di lapangan. Kadang berpanas- panasan. Capek. Namun, satu ayat berharga bisa menempel dalam memori anak kecil ini. 
Dengan satu ayat ini pula, dia bisa menasehati adik-adiknya untuk bersabar. 
Seingat umi, sudah beberapa jumat mudir absen memberikan tausiyah. Entah tausiyah kapan yang didengarnya. Berarti nasihat ini sudah lama dan masih tersimpan rapi di ingatan si sulung. Semoga Allah selalu menjaga hati si sulung sehingga ayat-ayatNya terpelihara di dalam hati. Amin. 

Sabtu, 09 Mei 2026

Jeda-1

Ada banyak harapan yang berbisik di balik dinding-dinding ini
Ada cinta yang terus mengalir, meski harus tertahan lama di bilik bersekatkan kain
Mendengar rintihan, penolakan, serta teriakan  dari diri yang tak sepenuhnya sadar 
Semua dihadapi, agar reda segala kecemasan.
Semoga lekas sembuh ya, dan kita pulang.

Minggu, 20 April 2025

Bu, Besarkanlah hatimu!

Semakin larut malam, kepala ini makin berisik. Banyak pikiran baru muncul, ada kesadaran baru yang tiba-tiba tumbuh. Rasanya sayang kalau tak segera diluapkan. Semoga saja bisa memberi manfaat. 
Sebagai ibu, semua hal tentang anak adalah salah satu yang menjadi perhatian penting. 
Mungkin bukanlah sebuah keegoisan, jika ibu yang berkarier di luar rumah punya harapan yang sama untuk sebuah pencapaian maksimal soal tanggung jawab terhadap anak, seperti halnya ibu yang fokus di rumah. 
Kadangkala memang apa yang ditangkap telinga dari kiri dan kanan membuat ibu berkecil hati. Bahwa soal perhatian kepada anak, ibu rumah tangga memang selangkah lebih di depan dari ibu-ibu yang berkarier. Karena waktunya didedikasikan penuh untuk keluarga. 
Tapi dalam keyakinanku, selalu ada jalan untuk mencerdasi segala keadaan. Jangan lagi berbicara soal kuantitas, atau seringnya pertemuan dan intensitas perhatian. Tapi lebih dari itu kualitas lebih diutamakan. 
Ibu yang berkarier mungkin punya sedikit waktu membersamai anak, tapi jika di waktu yang sedikit itu perhatian dicurahkan dengan sepenuh hati akan memberikan dampak yang besar. InsyaAllah bisa memenuhi kebutuhan rasa sayang anak dari orang tuanya. 
Belum lagi peran penting sebuah do'a. Doa ibu adalah hak anak yang tidak bisa diabaikan. Do'a yang dengan tulus dan ikhlas dipanjatkan pada pemilik langit dan bumi. Doa terbaik yang menjadi pendorong tercapainya harapan mulia ibu atas keselamatan anaknya. 
Allah Maha mengetahui segala alasan dari setiap keputusan, yang paling memahami dan menghargai setiap usaha dan upaya. Lantas mengapa masih saja diselimuti oleh rasa pesimis? 
"Sungguh andil besarmu dalam mendidik anakmu tak bisa ditakar, ibu. Semua kasih dan sayangmu dalam bentuk apapun akan sampai ke hati anak-anakmu, akan tertanam hingga mereka tua. Kamu mungkin tak di rumah dengan mereka, tapi segala kebutuhannya kamu tak pernah abai walau banyaknya kesibukanmu di luar dengan beragamnya tekanan. Sebelum berangkat bekerja, kamu harus bangun jauh lebih awal untuk menyediakan makan minum mereka, meski sebenarnya kamu masih butuh banyak waktu untuk istirahat. Anak-anakmu pasti tau itu, dan mereka akan memahami kalau pengorbananmu itu adalah sebentuk perhatian yang luar biasa darimu. 
Bu, Sebaik-baik perempuan adalah perempuan yang berdiam di rumah, tapi bukan berarti yang berkarier di luar rumah adalah perempuan yang buruk.
Selama niat kita lurus, dan tidak mengutamakan karier di atas segalanya. Allahlah sang penilai terbaik. 
Yuk! Bersama kita membesarkan hati dan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita. 

Jumat, 31 Januari 2025

Boleh Ga Sehari Saja

Boleh ga sehari saja pamit dari rutinitas. Ga mikirin kerjaan dulu dengan segala deadline  yang terus mengejar. Apapun deh, termasuk tugas dan tanggung jawab di rumah. Pengen menepi sejenak hanya dengan diri sendiri.
Leyeh-leyeh di kasur tanpa ada yang mengganggu. Bisa tidur dan bangun di waktu yang tepat lalu menikmati keindahan pagi di atas sajadah sampai matahari menunjukkan hadirnya di sela-sela jendela.
Kalau lapar tinggal memencet tombol order di aplikasi online dan makanan pun datang. Di seharian yang panjang itu bisa melakukan hobi-hobi yang selama ini sering terlindas oleh kesibukan. Pokoknya sehari saja ngikutin maunya hati.
Bisa ga sih kita nerapin konsep slow living itu di zaman sekarang. Setidaknya di hidup kita sendiri yang di umur segini, meskipun di ujung sana ada tujuan yang sedang menanti. Yang mana kita merasa dituntut untuk bisa sat set melakukan ini itu demi memaksimalkan waktu yang sedikit agar mengcover gunungan aktivitas. Harapannya hanya satu, kepuasan.
Sebenarnya bisa ga sih hidup ini dibikin selow ? Biar ga mudah jenuh dan stres. Biar bisa mempertahankan kesehatan mental dari beragam tekanan, itu katanya. Dan, biar ga muncul pertanyaan seperti di judul tulisan ini. Atau mungkin perlu ditetapkan dulu konsep selow yang bagaimana yang ingin dipilih agar tak terkesan ikut-ikutan. Kita tak perlu melahap semua isi kepala orang, padahal ada yang tidak cocok bahkan berseberangan dengan diri kita. Aku setuju dalam setiap kegiatan kita harus mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Meminimalisir pekerjaan yang kurang bermanfaat lalu menggantinya dengan istirahat atau melakukan hobi yang membuat pikiran senang, supaya nanti pikiran dan energi tubuh bisa maksimal untuk kegiatan yang penting-penting saja.
Tapi untuk hidup yang terlalu santai dan bebas dengan dalih meminimkan tekanan sejujurnya aku tidak setuju. Bagiku hidup harus mengandung unsur susah dan mudah. Ada masa tenang dan ada masa dalam tekanan. Begitulah alam seharusnya berjalan supaya tetap seimbang.
Jadi kalau capek, ambillah sedikit jeda hari ini. Esok kita mulai kembali. 🙃

Minggu, 17 November 2024

Masa Lalu yang Sekelebat Hadir



Tanpa sengaja mendengar "lagu" masa itu. Yang menjadi pengiring jalannya sebuah cerita. Aku hanyut terseret ke waktu di mana aku sedang gila. Memendam rasa sakit mendalam sebab luka hati. 
Sering kusampaikan bahwa awal ceritaku tlah ditelan oleh kepedihan, sehingga tak satupun kisah manis yang bisa kuingat dan rasakan. 
Jadi, kapanpun aku diingatkan akan kisah itu, yang akan segera menyelimuti hatiku hanyalah kesedihan dan kesakitan. 
Kisah yang usai, namun sepertinya belum benar-benar usai. 
Karena hingga detik Ini, aku masih mengharapkan satu kata darinya ; Maaf. 
Maaf yang tulus karena dia yang telah menghancurkan perasaan yang semula dibangun bersama. 
Aku memang naif kala itu, tapi aku tak pantas dipermainkan. 
Dan memang waktu sudah sangat jauh berputar, namun torehan hitam masih dalam menghujam. 
Semoga suatu saat dia mengingatku lalu mengucapkan kata itu. Dan aku yakin, ketika itulah kisah ini akan benar-benar selesai. 

Minggu, 20 Oktober 2024

Yang Tak Tau Kapan Berhenti

Di titik dimana aku menyadari bahwa aku tlah melampaui batas
Mengejar hal yang tak patut dikejar
Memaksa diri melakukan ini dan itu 
Tanpa tau bahwa tubuhku berteriak agar sejenak berhenti

Aku kini lelah
Aku sangat lelah
Kesibukanku memakan diriku sendiri
Pikiranku memporak porandakan isi kepala
Aku usai
Eh, aku ingin usai

Jumat, 06 September 2024

Duhai yang Tengah Lupa

Mendengar ocehan negatif seseorang tentang diri kita mungkin akan membuat telinga memerah panas hingga tersulut emosi, Ingin rasanya melemparnya dengan bukti-bukti sebagai klarifikasi untuk membela diri. Supaya khalayak tercerahkan, dan bisa menilai dari dua sisi. Tapi untuk apa, si pembenci akan tetap menjadi pembenci jika pikiran dan hatinya enggan dibenahi. Dan khalayak hari ini sesungguhnya bukanlah orang awam yang perlu diajari untuk menilai seseorang, nurani dan kecerdasan akan mampu menilai dengan benar meski seringkali ketakutan akan keterasingan melunturkan ketegasan dalam bersikap. 
Betapa kita lihat hari ini, kebenaran dikalahkan oleh ketenaran. Kebanyakan orang tidak lagi memandang kebenaran sebagai hal yang perlu dijunjung tinggi yang kemudian dimanifestasikan dalam diri, karena kebenaran hari ini sudah tercampak terhempaskan oleh kepalsuan yang berbalut dalil-dalil pembenaran. 
Saya tidak sedang membahas sesuatu dalam lingkup yang besar, tapi ini terjadi di kelompok kecil. Di mana yang kuat menempati posisi paling tinggi. Dengan kuasa mempengaruhi menarik banyak follower yang mengikuti , membela dan membenarkan. 
Tapi apakah ini akan membuat kita ciut yang kemudian membuat diri kita seperti buih-buih di tepian pantai. Atau seperti baling-baling bambu di puncak bukit. Tentu itu semua tergantung pilihan kita. Jika kita tegas dan terus memegang prinsip kebenaran maka konsekuensi untuk dihujat dan diserang harus diterima lapang dada. Namun jika memilih mengikuti kemana arah angin, maka selagi kekuatan angin yang membawa masih kuat maka kita akan aman berada dalam ritme putarannya. Jika hembusan angin berhenti maka kita akan kembali menjadi pecundang yang tak bisa melakukan apa-apa selain hanya diam seribu bahasa. 
Kebenaran logika dan metode berpikir sangat dibutuhkan dalam hal ini. Agar kita menjadi manusia yang teguh dalam prinsip serta tak takut menampakkan jati dirinya. Ini bukan hanya soal menilai seseorang, bukan soal yang benar harus dijunjung tinggi dan yang salah dicaci maki. Tapi soal konsistensi dalam memegang prinsip hidup. Tentang apapun itu. Kebenaran logika berpikir akan melahirkan tindakan yang tepat, menciptakan pemikiran yang konsisten dan tidak mudah berubah-ubah. Logika berpikir yang tepat dan benar dimasak dengan data-data yang valid yang diperhitungkan, bukan dengan asumsi subjektif yang ditunggangi aneka kepentingan. 
Secara sederhana dan tetap berfokus pada judul tulisan ini, seringkali seseorang begitu mudahkan memberikan label-label negatif pada seseorang tanpa melihat dari beragam sisi, bahkan jatuh kepada fitnah-fitnah tak berdasar. Kemudian hal tersebut disuarakan ke khalayak yang artinya tidak lagi menjadi asumsi pribadi yang cukup disimpan sendiri. Tak hanya menjadi dosa sendiri tapi menjadi dosa jariah yang akan terus dipanen setiap hari selagi asumsi tersebut masih dipegang oleh siapapun yang mendengar.  Artinya; kesalahan logika berpikir membuat seseorang tergelincir pada suatu kesalahan. Bukankah kita harus berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu? Bukankah harus tau dulu seberapa urgentnya sesuatu untuk dibahas? Jika memang harus dibahas, adakah manfaat yang kelak bisa dipanen atau malah berakibat yang tidak baik? dan  apakah kita punya cukup ilmu atau data tentang hal itu? 
Apalagi hal tersebut menyangkut diri pribadi orang lain. Rasanya jelas, bahwa tak ada kepentingan kita dalam membahas pribadi orang lain dihadapan  umum. Jika itu untuk menanamkan asumsi bahwa kita lebih baik atau bahkan sempurna di dalam kepala orang-orang maka silahkan saja, dan tentu hal tersebut telah disusupi oleh kepentingan pribadi kita sendiri. 
Mungkin sikap terbaik yang perlu kita tumbuh suburkan saat menilai pribadi seseorang, adalah dengan memberinya uzhur atas kealpaan yang dia lakukan. "Oh mungkin dia seperti ini karena belum tau ilmunya" Atau dia begitu mungkin karena dia sedang futhur. Kemudian doakan kebaikan untuknya. MasyaAllah, akan sejuk telinga mendengarnya. serta akan tercipta iklim yang damai. Terakhir, sebuah syair sederhana mungkin akan menjadi penutup yang sempurna. Untuk sesiapa saja yang sedang lupa yang kemudian tanpa sengaja telah mencederai sepotong hati. 

"Duhai yang tengah lupa, yang menjelma menjadi pembenci, dengan semua pengikut yang terus mengekor di belakangnya, aku tidak bisa mengontrol dirimu, aku tak mampu  menutup mulutmu dan aku merasa tak perlu melakukan itu. Silahkan tebarkan asumsimu tentangku seluas-luasnya yang kamu mampu, agar seluruh penghuni bumi tau bahwa aku seperti ini dan itu. Tapi sekuat-kuatnya kuasa yang kamu miliki, kuasa Allah sungguh jauh berada di atasmu, dan tidak semua manusia bisa kamu pengaruhi, di luar sana banyak manusia cerdas yang dengan mudah bisa membaca kualitas dirimu. Aku tak pernah butuh pengakuan, aku tak butuh dipandang baik, namun aku tetaplah manusia biasa yang memiliki ragam rasa, jika hatiku terluka aku akan merasakan kesedihan juga.  Bahwa hidupku milikku, dan aku tak perlu menjelaskan apapun kepadamu tentang apa yang menjadi milikku. Aku tak merugikanmu, aku pun tidak berusaha membela diriku ketika kamu berbicara sesuatu di belakangku, kubiarkan kamu dengan segala kekuatanmu dan tidak akan pernah kujatuhkan. Semoga Allah selalu menuntunmu pada kebaikan, karena sesungguhnya aku bisa memahami bahwa kamu begitu karena mungkin saat itu kamu dalam keadaan lupa saja, aku yakin esok kamu akan kembali pada nilai-nilai baik yang sudah ditanamkan pada dirimu sejak dulu. "