Saat ini
aku bak gelas kosong yang hanya akan menampung segala curahan kata yang ingin
kau sampaikan. Karena terhadap cinta, aku tak mampu menjadi penafsir..
Sabtu, 22 Februari 2014
Daun Musim Gugur
Tidakkah kau takjub pada keanggunan daun-daun musim gugur?
Yang memerah tabah, lalu rela jatuh dengan elegan memenuhi takdirnya...
Di bawah Rerimbun Pohon Apel
“Aku tak punya
uang dan emas untuk melamarmu sayang, aku hanyalah petani biasa. Sebab itu, bolehkan aku melamarmu dengan apel ini?” Sang pria langsung berdiri lalu
memetik apel yang persis ada di atas kepalanya. Ia pun langsung menyerahkan
apel tersebut kepada wanitanya. Malu-malu, si wanita pun mengambil apel tersebut seraya mengangguk dengan pelan. Segurat senyum manis merekah di bibirnya. Ia kemudian
menggigit apel itu dengan lembut, lalu berkata. “Hmmm, terima kasih sayang... ini adalah apel paling eeeenak se-dunia” hehe.
Duuu,
romantis yaa……^____^
Saat Terpekur
Redap redup dalam
juang mengikat asa
Membaca, melihat
dan menafsir apa yang dapat dipandang
dari perilaku
Dosa dapat lahir
dari beragam celah pintu
Datang dihembus angin segala penjuru
Kemudian akan luruh dalam
pengampunan…
Diam...
Hanya dalam diamlah aku dapat bicara
Bicara keindahan, bicara ketenangan, bicara keselarasan
Saat telinga tak mendegar, saat mata
tak melihat,
Saat itulah semua indera tubuh hidup secara nyata…
Perempuan
Seyogyanya memang tak perlu mengejar title yang bersetara
dengan laki-laki di tengah masyarakat. Perempuan, sejatinya tak perlu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
kodradnya. Seperti, keluar dari rumah, ikut mengejar kedudukan di antara lelaki
sehingga menjadi terpandang yang dielukan. Ini bukan perihal menentang
kebebasan perempuan, bukan melarangnya berkreatif, hanya jangan sampai tugas
pokoknya berubah menjadi tugas sampingan. Menjadi profesional manager di rumah
adalah pekerjaan yang sungguh luar biasa. Butuh keahlian lebih, butuh belajar
seumur hidup, bukan sebatas s1, s2 sampai es es lainnya.
Si Pembaca : Dalam Ketidakcerdasannya
Pertama kali saya
melihat buku ini di sebuah toko buku ternama tanah air, hati saya langsung
tergerak untuk membelinya. “menarik” begitu menurut saya. saya berharap bisa
mendapatkan pelajaran dari buku itu untuk ke depan. Buku itu pun saya bawa
pulang. Saya baca. Namun, setelah helai demi helainya saya nikmati, kenapa saya
malah merasa takut, benci dan marah. Membacanya semakin memperparah perasaan
trauma yang telah lama hinggap di diri saya. “laki-laki brengsek”mengapa banyak
laki-laki yang tak bersyukur memiliki istri sholehah? Mengapa banyak laki-laki
yang menyia-nyiakan bahkan mengkhianati. Sungguh jahat.
Saya yakin buku itu hanya
menggambarkan sebahagian kecil tragisnya
kisah muslimah. Masih banyak lagi kisah
perih yang belum trerulur ke permukaan. Wallahu a’lam. Saya pun berhenti di
halaman 150 dari 300 halaman buku itu.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
