Sabtu, 16 Juli 2022

Nasihat Singkat

Saat engkau terluka oleh sikap manusia, senantiasa bersabarlah. Jangan cela dia, meski hanya di dalam hatimu, karna celaan menandakan dirimu tlah berbangga dan merasa diri lebih baik darinya.
Cukup jadikan pelajaran berharga, tentang perlakuannya kepadamu, akan engkau ingat selamanya.
Bahwa engkau tidak akan melakukan hal yang sama pada siapapun juga.

Bunda, Yuk Saling Menghargai!

Satu hal yang perlu diingat dalam status kita sebagai orang tua adalah jangan pernah merasa diri paling hebat dalam mendidik anak. Walaupun diakui memang hebat karena anak-anak yang kamu didik sukses di kehidupan dunianya. Ya, mungkin hebat untuk anakmu. Tapi bukan untuk anak orang lain.
Jangan pernah berbangga diri, apalagi sampai mendikte orang lain untuk mengikuti caramu. Hargailah pilihan mereka dalam mendidik anak-anak mereka. Jangan campuri dan jangan memandang sinis kepada mereka.
Ingat, latar belakang hidupmu dan mereka jelas tak sama. Keadaanmu saat ini pun juga tak sama dengan mereka. Dan pastinya anakmu dan anak mereka adalah dua orang yang berbeda. Berbeda personality, berbeda keadaan dan jelas berbeda pula latar belakang hidupnya.
Sungguh pemandangan yang memilukan, tatkala seseorang sedang menegur anaknya, lalu yang lain yang tak diundang ikut campur dan mementahkan usaha si orang tua. Sangat disayangkan nasihat yang hampir masuk ke hati si anak langsung digagalkan .
Satu lagi ingat! Tingkat dharuriyatnya sesuatu hal dan tingkat kesepelean suatu hal pada pandangan masing-masing orang itu bisa saja berbeda.
Bagi kamu mungkin sepele, bagi sebagian yang lain tidak.
Ya, intinya, yuk saling harga menghargailah kita sebagai sesama orang tua.
Boleh memberi saran, tapi jangan memaksakan kehendak.
Kalau memberi saran, lihat-lihat kondisi juga. Ajaklah bicara berdua dengan bahasa persuasif yang indah didengar. Kan kita sudah jadi orang tua. Sudah dewasa toh!
Wallahu a'lam

Introvert vs ekstrovert Dalam Pandangan Masyarakat Secara Universal

Salah satu dimensi kemanusiaan yang paling asik untuk dibahas adalah dimensi kepribadian. Dimensi ini mempengaruhi perilaku manusia dalam menempatkan dirinya di masyarakat.
Berbicara tentang kepribadian sejatinya sama saja membicarakan hal yang sifatnya subjektif. Penilaian baik buruknya tiada tolak ukur yang pasti. Hanya bisa dirata-ratakan tergantung kondisi di selingkar masyarakatnya.
Kali ini saya tidak akan membahas tentang terminologi kepribadian introvert dan ekstrovert.
Pusat bahasan saya kali ini adalah bagaimana masyarakat memandang dua kepribadian ini.
Secara umum, kecendrungan manusia lebih menyukai pribadi ekstrovert karena mereka lebih ceria, mudah berkawan serta pandai bersosialisasi dengan semua kalangan. Dan umumnya mereka ini mudah diterima dalam masyarakat. Karena sudah menjadi sifat masyarakat untuk butuh akan bersosial dan bermua'amalah satu sama lainnya. Bertolak dari ini, maka masyarakat akan cenderung melontarkan stigma negatif pada orang-orang dengan pribadi sebaliknya yaitu introvert. Orang-orang yang pendiam, yang suka mengurung diri, terlihat enggan untuk bersosialisi dengan sekitar meskipun hanya untuk basa basi. Orang-orang seperti ini sulit ditebak, dan biasanya memiliki lingkaran pertemanan yang kecil dan sempit.
Tapi apakah pemikiran seperti ini layak untuk dipertahankan? Saya rasa tidak.
Untuk bisa mengerti ini, sangat butuh pada dua hal berikut ; Pertama pengetahuan dan kedua adalah pemahaman.
Pertama harus tau dulu, bahwa manusia diciptakan dengan sangat kompleks. Tak hanya morfologi jasad yang berbeda tapi juga kepribadian yang berbeda. Kita tak dituntut untuk tau akan istilah-istilah yang dipakai dalam bahasan ilmu jiwa, apakah itu ekstrovert, introvert, ataukah ambivert. Cukup tau saja bahwa manusia memiliki pribadi yang beragam.
Pengetahuan ini in sya Allah akan membantu kita untuk bisa lebih memahami orang lain. Sehingga setiap tindakan kita tak melulu bersifat egosentris semata.
Lalu setelah itu barulah dibutuhkan pemahaman. Tak sekedar tau, tapi juga memahami.
Apa indikator seseorang berada di level paham?
Yang jelas tak ada lagi judgemental/sikap menghakimi.
Mampu membedakan antisosial dengan introvert. Ini adalah dua istilah dengan makna yang berbeda. Antisosial merupakan sebuah gangguan kepribadian. Penderitanya cenderung berbohong, melanggar hukum, bertindak impulsif, dan kurang memperhatikan keselamatan diri sendiri maupun keselamatan orang lain. Sedangkan orang-orang dengan pribadi
introvert adalah mereka yang fokus dengan diri sendiri, tipe damai. Mereka bukannya tidak mau bersosial, bukannya tidak mau andil dalam kehidupan bermasyarakat, hanya saja mereka merasa tak pandai dalam menempatkan diri. Merasa canggung.
Jika bicara simpati dan empati, justru mereka lebih mudah tersentuh. Karena diamnya mereka bukannya karena apatis, melainkan diam yang terus mengamati.
Untuk membantu mereka bersosialisasi maka disinilah perannya orang-orang ekstrovert untuk menarik mereka masuk ke masyarakat. Mereka butuh pada orang-orang yang bisa menyamankan suasana sehingga mereka tak lagi merasa canggung dan terasing.
Jika dipelajari lebih dalam, pribadi introvert yang sudah terasah, dalam artian sudah melalui proses pembelajaran kehidupan, akan menjadi kepribadian yang luar biasa. Betapa banyak daftar nama orang-orang sukses di dunia ini memiliki kepribadian introvert.
Karena mereka mampu meningkatkan sisi kelebihan dan menekan sisi-sisi kekurangannya. Wallahu a'lam

Penerimaan Diri

Memaksa diri untuk tampil sempurna adalah hal yang menyakitkan. Karena faktanya manusia telah dianugerahi hawa nafsu yang setiap waktu bisa menyeretnya pada kesalahan.
Adakalanya kita butuh peregangan dalam hidup. Agar semua yang bernaung di dalam pikiran bisa menerima semua keadaan. Kita bukanlah sang creator dari sebuah kenyataan di mana semuanya harus berjalan sesuai kehendak yang kita gariskan.
Mari bersama menjalani, mengikuti skenario. Toh, banyak jalan telah di sediakan. Karena ini skenario dari Tuhan, tidak ada pemaksaan, yang ada hanya tuntunan. Perlu kontrol dari dalam, dan sebuah penerimaan serta reaksi yang positif jika ada hantaman badai dari luar.
Kita manusia, tempat salah dan benar. Keduanya akan selalu mengiringi setiap jejak perjalanan kita.
Berusahalah berbuat baik untuk mengisi jatah hidup yang tersisa.
Sebuah kesalahan dan kegagalan adalah pelajaran berharga yang harus disesali untuk kemudian diterima dan diperbaiki.
Bukan untuk dihujat,  diratapi, dipertanyakan tanpa batas akhir. 

Halo aku

 Halo aku....

Apa kabar?
Maaf lama tak menyapa
Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk ya?
Hmm, benar. Waktuku banyak terpakai untuk keluarga.
Memasak, beberes rumah, bermain bersama anak, diskusi alot dengan suami,
Juga mengurus urusan pekerjaan yang semuanya mendesak
Semoga kamu bisa lebih sabar ya,
Soal waktuku, insyaallah akan selalu ada untukmu
Oh ya, apa kabar hal kemarin?
Apa masih kau pikirkan?
Tak mengapa, cukup pikirkan sekedarnya dan semampumu saja. Lebihnya, serahkan saja sama Tuhan. Ingat kamu tidak sendiri.
Paling penting itu jangan bosan berbuat baik. Terus dan terus.
Dan untuk semua kesalahan, yuk sama-sama kita berupaya memperbaiki, ya walaupun setelahnya tanpa kita sadar muncul lagi kesalahan baru, lagi dan lagi
Oh ya, jangan memaksa diri selalu sempurna ya, karena itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.
kan wajar jika ada kesalahan, kita  manusia kan. Plis, jangan terus-terusan menyalahkan diri ya.
Satu lagi,  jangan terbebani sama omongan orang. Jangan takut tak bisa membahagiakan orang.
Bukankah baru kemarin kita belajar untuk tidak memusingkan reaksi orang-orang di luar circle 1 kita.
Kita sudah selesai memposisikan orang-orang di kehidupan kita dan sudah tau pengaruh keberadaan mereka ke kita dan pengaruh kita ke mereka.
Udah ya, untuk yang ini kita udah kelar ya. Jangan dibahas lagi lho.
Sebenarnya, fokus kamu itu cukup sama hal intern yang ada dalam dirimu saja.
Fokus untuk bisa mengendalikan diri, mengelola emosi, meningkatkan kualitas spiritual, sehingga mental kamu selalu dalam keadaan baik dan hubunganmu dengan Tuhan pun semakin dekat.
Soal aksi reaksi dengan pihak luar itu tak perlu menjadi beban pikiran, kamu tidak bisa mengontrol hal di luar dirimu.
Makanya jika ketahananmu di dalam kokoh, maka pihak luar tak akan bisa mengusikmu.
Yuk, mari belajar memaafkan.
Masyaallah, tentang ini, jadi ingat tausiah sang guru dua hari yang lalu.
Ada 3 kunci dalam al Quran yang bisa dipegang dalam menjalani interaksi dengan sesama.
" Maafkanlah, ajaklah pada kebaikan, dan berpalinglah dari orang yang bodoh"
Simpel dan indah.
Maafkanlah mereka yang salah, jangan bebani mereka dengan sesuatu di luar kemampuannya. Setiap orang berbeda-beda. Dan pahamilah mereka yang berbeda-beda itu.
Lalu ajaklah pada kebaikan ( sesuai al quran dan sunnah dan sesuai keadaan urf/adat istiadat yang tidak melanggar syariat)
Terakhir, berpalinglah dari orang-orang bodoh.
Oh ya, Sudah terlalu malam, semoga obrolan kita bisa memberikan manfaat ya.
Tunggu aku ya, esok aku akan menemuimu kembali. 

Sabtu, 09 November 2019

Penting Buat Pembaca yang Budiman

Adakalanya enggan untuk mengutarakan kepiran dari sebuah pemikiran. Karena pembaca kadangkala terlalu bebas menafsirkan. Bukan salah mereka memang. Seperti ungkapan, "pembaca bebas mengartikan maksud penulis"
Namun harus difahami, bahwa hanya si penulislah yang memiliki makna itu (makna asli).
Beratnya, ketika sebuah tulisan yang sifatnya sebuah "kasus" dipublikasikan. Banyak muncul spekulasi miring yang mengarah tajam kepada si penulis. Ih, itu jelas banget penulisnya lagi curhat.
Parahnya, sampai nunjukin sikap yang underestimate pada si penulis. Bahkan nulis komentar ngejudge yang bikin kita mau istighfar ribuan kali.
Memang sih itu haknya pembaca. Bagi yang nulis ga ada ruginya juga. Tapi kasihan pembacanya jadi habis energi plus dapat dosa. So, jadilah pembaca yang cerdas. Mau tulisannya based on true story atau ga, itu ga penting. Yang utama itu, kamu dapat pelajaran tidak dari tulisannya. Jangan malah sibuk mikirin ini curhat apa ga. Kan "انظر ما قال ولا تنظر من قال"
Ya ga ngerti arab, tafadhol search di google ya. Sekalian dapat ilmu bahasa arab juga dari tulisan ini. Semoga ga ada lagi yang mikir kalau tulisan ini curhat ya. Kalau masih ada, yaaah! Mau dikasih tau dengan cara apa lagi ya? 

Buah Hatiku, Asetku Paling Berharga

Saya melihat masing-masing keluarga menginginkan"goals" yang berbeda dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. Ada yang ingin menjadikan anaknya ahli sains, ada yang ingin anaknya unggul di bidang sosial, dan ada pula yang ingin anaknya mahir berbahasa asing. Dan lain-lainnya.
Apapun pilihannya, itu jelas sah-sah saja. Toh memang sudah menjadi haknya orang tua mau menjadikan anaknya seperti apa.
Namun, yang menjadi turning point saya di sini bukanlah itu. Sebagai orang tua yang newbe. Saya sekarang masih banyak meraba, masih terus membaca, serta mengamati beragam pengalaman orang tua lain yang bisa dibilang sukses, jika kita melihat dari indikator yang ingin saya bagi di sini.
Anak yang dititipkan allah di rahim kita bukan hanya sebagai rezeki yang selalu kita syukuri. Namun lebih dari itu, si anak ini adalah amanah besar yang bersamanya ada tanggung jawab yang besar pula untuk orang tuanya.
Mau jadi apa si anak kelak, orang tualah yang menjadi pengarahnya.
Jika obsesi orang tua sebatas dunia, biasanya anak-anaknya juga akan diarahkan kepada hal-hal yang bersifat duniawi pula. Namun, jika obsesi orang tua dunia dan akhirat. Maka anak-anak yang berada dalam pengasuhannya akan diarahkan pula kepada dua hal tersebut.
Kita sebagai seorang muslim, rugi rasanya jika kita memilih pilihan yang pertama. Sedang anak ini adalah aset kita, tak hanya di dunia tapi juga untuk akhirat. Tersebab aset ini, maka semenjak memilih calon ayah ataupun ibu untuk si anak, seorang muslim harus pasang kriteria yang menunjang itu. Sampai anak tersebut dititipkan dalam rahim, aset terus dijaga. Si ibu berusaha memakan makanan yang halalan thoyyiba. Mendengarkan yang baik-baik saja. Rajin ibadah dan melakukan hal baik lainnya. Terus, saat tiba waktu menyusui. Ibu pun berusaha memberikan bayinya asi yang didalamnya mengandung kualitas makanan terbaik dari makanan yang diperoleh secara halal.
Terkait hal ini saya teringat ucapan seorang ustadz dalam sebuah kajian. Bahkan asi yang diberikan pada anak bisa menjadi amalan jariyah untuk orang tua kelak. Karena asi yang diminum itu akan menjadi komponen untuk membentuk otot si anak, atau bisa juga menjadi asupan untuk perkembangan otaknya. Jika nanti si anak tumbuh menjadi pribadi yang sholeh, maka asi yang sudah menyatu di dalam daging dan tubuhnya akan digunakan untuk melakukan hal hal baik, yang pahalanya tidak hanya untuk si anak tetapi mengalir untuk ibu dan ayahnya juga. Ibu makan dari rezeki yang diusahakan si ayah, kemudian ada asi, yang secara rutin diberikan kepada anak hingga dua tahun umurnya.
Kemudian, saat tiba masanya mereka batita dan kanak-kanak. Di sinilah segala upaya terbaik harus dilakukan orang tua.
Bagi anak saya, yang saat ini berusia dua tahun. Masa bayi hingga menjelang dua tahun ini adalah masa meyerap paling baik. Karena setelah itu, saya saksikan begitu banyak perilaku anak saya yang ia tampilkan sesuai dengan apa yang sudah ia amati di masa sebelumnya.
Kami banyak mendapatkan kejutan di dua tahun ini. Karena tiba-tiba saja dia udah bisa ini, dia bisa itu dan lain-lainnya.
Oke. Kami berfikir inilah saatnya eksekusi metode terbaik lebih dalam lagi dan lebih kontinu lagi.
Semoga aset ini bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang diharapkan. Tak hanya untuk dunia tapi juga akhirat. Yuk, kita sama-sama berusaha dan berupaya. Berpayah-payah dahulu, panen pahala kemudian.* Padang, 2019