Sangat lucu sebenarnya jika di usia 30an itu masih baper-baperan dalam urusan "pertemanan".
Harusnya sudah berada di tingkat "saling memahami". Teman belum balas chat, its ok, mungkin sibuk. Teman belum mau cerita kenapa dia menangis, tak mengapa, mungkin dia butuh waktu merenung sendiri dulu, kita tidak perlu tau juga kan semua kisah hidupnya. Karena bukanlah konsekuensi sebuah pertemanan untuk tau semua hal tentang kehidupan si teman.
Harusnya usia ini sudah melahirkan pribadi yang matang. Ya, harusnya sih. Sudah bisa meredam emosi yang berlebihan untuk lebih mengoptimalkan porsi logika. Sudah bisa sedikit mengenyampingkan ego untuk memelihara iklim damai.
Sudah bisa bersikap elegan walau berada di kondisi terburuk sekali pun. Tenang dan tidak meledak-ledak. Menarik rasa sakit dalam-dalam, lalu mengikhlaskan semua ketidaknyamanan.
***
Di usia 30an. Mari berusaha untuk tidak ikut-ikutan latah, yang bisanya cuma jadi folower dari kubu adidaya dan adikuasa.
Mestinya sudah punya prinsip. Berani kontra meskipun nantinya akan ditinggalkan, bahkan disingkirkan. Berani jalan sendiri meski semua mata memandang dengan tatapan aneh.
Punya jiwa besar itu penting. Mau menerima kesalahan. Selalu terbuka untuk kritik dan saran.
Mau menerima diri sendiri. Tidak lagi memaksa diri untuk tampil sempurna di hadapan orang. Yang kalau gagal bisa mengikis ketenangan hati. Manusia memang tak ada yang sempurna bukan. Kalau jatuh, ya tinggal bangkit lagi. Kalau salah, perbaiki lagi.
Mari belajar terus untuk menutup telinga dari nada-nada sumbang yang datang dari kanan dan kiri. Karena bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang sudah susah payah dibangun.
***
Kalau katanya, di usia 30an ini manusia cenderung melakukan "audit kehidupan" untuk mendapatkan variasi dan kepuasan hidup.
Saat titik-titik yang mau dicapai sudah makin benderang.
Bidang karir sudah tetap atau pun belum tetap. Tapi semua sudah terencana dengan matang. Beberapa mungkin sudah berada dalam sebuah pernikahan. Ada suami atau istri, ada anak-anak.
Tentu banyak tugas yang akan diemban.
Belum lagi tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan spiritual.
Sedangkan di usia produktif ini rentang waktu bekerja kian panjang.
Butuh kemahiran dalam mengelola skala prioritas.
Terkadang pasti akan menemui masa kritis juga. Dan itu sangat wajar terjadi.
Kurangnya me time, kurangnya we time bersama pasangan dan keluarga.
Perlu usaha untuk meningkatkan kualitas pertemuan di sempitnya kebersamaan.
Ya, Begitulah kompleksnya kehidupan kepala tiga. Namun selalu ada rasa syukur kala terhanyut dalam perenungan. Tergambar jelas titik-titik revolusi diri di setiap perpindahan usia.
Ya, semoga selalu bahagia. *padang 2021
Sabtu, 16 Juli 2022
Surat Kecil Untuk Ananda
Ananda..
Umi dan abi bukanlah orang tua sempurna nak
Tapi kami akan berusaha memberikan yang terbaik
Kami memang masih belajar dan akan terus belajar
Belajar memahami perkembanganmu lalu
Memikirkan bagaimana bisa memenuhi setiap fase perkembangan itu dengan semua hak yang mesti engkau dapatkan
Agar engkau bertumbuh dengan baik dengan mentalitas yang matang
Mungkin sewaktu-waktu kami alpa, tapi percayalah nak, setiap kali kami alpa setiap itu pula kami akan bersegera berbenah agar kembali bisa memenuhi semua tanggung jawab kami padamu
Ananda..
Suatu waktu mungkin kami akan terlihat tegas dan keras
Jangan sedih ya nak, jangan pula engkau marah atau dongkol di dalam hati
Kami hanya ingin engkau lekas mandiri
Kami ingin engkau bertanggung jawab
Kami ingin menunjukkan padamu mana yang baik dan mana yang buruk
Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh
Mana yang hitam dan mana yang putih
Kami tidak ingin engkau menjadi abu-abu nak. Karena di ujung kehidupan pun cuma tersedia dua pilihan surga dan neraka
Kelak engkau akan tau
Tahukah engkau sayang
Anandaku..
Engkau hidup di zaman yang serba mudah, semuanya ada, segalanya tersedia
Dengan beragam hiruk pikuk, camput baur yang mungkin tak bisa dibedakan lagi baik buruknya nak
Norma-norma sudah bergeser mengikuti kehendak dan kebutuhan
Namun di balik itu semua, jiwa manusia semakin kerdil, daya juang semakin rendah, agama menjadi nomor sekian dan tak perlu diprioritaskan
Inilah tugas besar kami untukmu, nak
Kadang kami harus berputar melawan arus. Memilih jalan yang tak biasa.
Bukan untuk menyisihkanmu dengan teman-temanmu nak
Biasakanlah dirimu berbeda nak, karena kebenaran di zaman ini akan berbeda dan asing
Umi tidak ingin engkau terlalu cepat memasuki arus, umi cemas jika engkau belum kuat, engkau cepat terhanyut
Ya, betapa tugas ini berat nak
Terkadang umi dan abi harus menerima cemoohan dari orang tua lain yang belum mengerti bahwa pola didikan masing-masih keluarga berbeda dan tidak harus sama
Seringkali, kami harus bersabar saat engkau diejek nakal
Kami harus sabar nak saat engkau diejek sebagai pengganggu
Kami harus berjiwa besar nak menerima segala macam pengaduan atas segala keaktifan dan kecerdasanmu
Kami tau engkau balita, kami tau bagaimana kehidupan balita, kami mengerti tak seharusnya mereka memberimu label-label buruk itu
Hanya kami yang memahamimu nak, kami akan terus berusaha membesarkan hatimu, menanamkan nilai-nilai yang baik padamu walaupun saat ini engkau belum mengerti
Engkau adalah ananda kami yang baik dan pintar, yang sholeh dan sholehah.
Kami percaya kekuatan dari sugesti kata-kata
Kami yakin kata-kata akan menjadi do'a untuk kehidupan yang baik di masa kanak-kanakmu, remajamu, dewasa dan tuamu kelak.
Semoga usaha Allah mengistiqomahkan kami di medan juang ini, semoga Allah memudahkan semuanya dan mengabulkan semua doa-doa terbaik kami untukmu.
Umi dan abi bukanlah orang tua sempurna nak
Tapi kami akan berusaha memberikan yang terbaik
Kami memang masih belajar dan akan terus belajar
Belajar memahami perkembanganmu lalu
Memikirkan bagaimana bisa memenuhi setiap fase perkembangan itu dengan semua hak yang mesti engkau dapatkan
Agar engkau bertumbuh dengan baik dengan mentalitas yang matang
Mungkin sewaktu-waktu kami alpa, tapi percayalah nak, setiap kali kami alpa setiap itu pula kami akan bersegera berbenah agar kembali bisa memenuhi semua tanggung jawab kami padamu
Ananda..
Suatu waktu mungkin kami akan terlihat tegas dan keras
Jangan sedih ya nak, jangan pula engkau marah atau dongkol di dalam hati
Kami hanya ingin engkau lekas mandiri
Kami ingin engkau bertanggung jawab
Kami ingin menunjukkan padamu mana yang baik dan mana yang buruk
Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh
Mana yang hitam dan mana yang putih
Kami tidak ingin engkau menjadi abu-abu nak. Karena di ujung kehidupan pun cuma tersedia dua pilihan surga dan neraka
Kelak engkau akan tau
Tahukah engkau sayang
Anandaku..
Engkau hidup di zaman yang serba mudah, semuanya ada, segalanya tersedia
Dengan beragam hiruk pikuk, camput baur yang mungkin tak bisa dibedakan lagi baik buruknya nak
Norma-norma sudah bergeser mengikuti kehendak dan kebutuhan
Namun di balik itu semua, jiwa manusia semakin kerdil, daya juang semakin rendah, agama menjadi nomor sekian dan tak perlu diprioritaskan
Inilah tugas besar kami untukmu, nak
Kadang kami harus berputar melawan arus. Memilih jalan yang tak biasa.
Bukan untuk menyisihkanmu dengan teman-temanmu nak
Biasakanlah dirimu berbeda nak, karena kebenaran di zaman ini akan berbeda dan asing
Umi tidak ingin engkau terlalu cepat memasuki arus, umi cemas jika engkau belum kuat, engkau cepat terhanyut
Ya, betapa tugas ini berat nak
Terkadang umi dan abi harus menerima cemoohan dari orang tua lain yang belum mengerti bahwa pola didikan masing-masih keluarga berbeda dan tidak harus sama
Seringkali, kami harus bersabar saat engkau diejek nakal
Kami harus sabar nak saat engkau diejek sebagai pengganggu
Kami harus berjiwa besar nak menerima segala macam pengaduan atas segala keaktifan dan kecerdasanmu
Kami tau engkau balita, kami tau bagaimana kehidupan balita, kami mengerti tak seharusnya mereka memberimu label-label buruk itu
Hanya kami yang memahamimu nak, kami akan terus berusaha membesarkan hatimu, menanamkan nilai-nilai yang baik padamu walaupun saat ini engkau belum mengerti
Engkau adalah ananda kami yang baik dan pintar, yang sholeh dan sholehah.
Kami percaya kekuatan dari sugesti kata-kata
Kami yakin kata-kata akan menjadi do'a untuk kehidupan yang baik di masa kanak-kanakmu, remajamu, dewasa dan tuamu kelak.
Semoga usaha Allah mengistiqomahkan kami di medan juang ini, semoga Allah memudahkan semuanya dan mengabulkan semua doa-doa terbaik kami untukmu.
Merasakan emosi negatif
Ide-ide di kepala sedang meletup-letup bagaikan biji-biji jagung yang bermetamorfosa menjadi popcorn dalam sebuah wajan besar.
Jadi, selagi masih on dan supaya ide tersebut tak menguap sia-sia, maka ada baiknya disalin dulu ke sebuah wadah. Moga saja ada manfaatnya.
*****
Masih fokus pada tema kesehatan mental, yaitu merasakan emosi negatif.
Apa iya perlu?
Kehadiran emosi negatif di sela-sela kehidupan yang berjalan adalah hal yang manusiawi dan wajar.
Kita tak perlu menekannya atau bahkan memangkasnya saat ia datang.
Hidup ini begitu kompleks, terlalu banyak warna, dan lika-liku di sana sini.
Adalah tidak adil, jika ragam perasaan yang dianugerahi Tuhan tidak bisa disalurkan sebagaimana mestinya.
Tak hanya emosi positif, kita juga memiliki emosi negatif yang butuh untuk dirasakan.
Kita punya bahagia, dan kita juga punya rasa sedih. Kita punya rasa puas, dan kita juga punya kekecewaan. Semuanya butuh penyaluran yang tepat dengan reaksi yang terkendali.
Semuanya memiliki kontribusi yang pasti untuk menjaga kesehatan mental kita.
Hadirnya emosi negatif berfungsi sebagai penyeimbang agar tidak terjadi ketimpangan emosi dalam diri (ketidakstabilan emosi).
Tidak benar jika kita berkata kepada diri untuk tidak boleh sedih, tidak boleh kecewa, tidak boleh marah.
Jika kita terus-terusan memangkas rasa tersebut, maka kapan kita akan bisa dan cakap dalam mengelola setiap emosi negatif itu. Sedangkan kita hidup tidak bisa tidak bersinggungan dengan lingkungan, kehidupan kita mau tidak mau akan berdampak pada lingkungan sekitar, minimal keluarga. Siapa yang bisa menjamin, jika suatu waktu kita lost, dan tak mampu menghilangkan emosi negatif yang kita anggap tak perlu itu. Coba saja bayangkan apa yang bisa terjadi? Adalah sebuah bahaya besar. Karena sebenarnya yang kita anggap hilang, bukan benar-benar hilang melainkan mengendap dan terus mengendap sehingga suatu waktu menjadi bom api yang akan menghanguskan diri kita sendiri.
Nah, harusnya yang jadi pemikiran kita adalah, bagaimana kita bisa mengendalikan reaksi atas emosi tersebut agar tidak mencederai diri sendiri dan lingkungan.
لا تغضب، ولك الجنة!
Jangan marah, dan bagimu surga. Begitu tepatnya nasihat sang Nabi.
Jangan marah bukan tidak boleh marah, tapi mengubah rasa amarah menjadi energi positif yang memberikan efek baik bagi diri.
Marahlah, tapi tidak dengan reaksi tanpa kendali karena disitu pintu masuknya syaitan. Bagaimana caranya? jika kamu sedang berdiri maka duduklah, jika sedang duduk maka berbaringlah. Dan
Ini adalah seni yang tak dapat diraih melalui teori saja, melainkan dari latihan dan latihan sedari dini.
Makanya penting -pada saatnya- untuk membiarkan anak-anak menangis dan meluapkan semua emosinya.
Karena disitulah anak-anak belajar untuk mengendalikan emosi.
Bukan segera didiamkan sambil ngomong, jangan nangis ya.
Oke, mulai sekarang mari terima segala rasa sakit, kekecewaan, dan putus asa.
Terima sebagai bagaian dari diri.
Rasakan sakit dan sedihnya, kendalikan
Reaksinya dengan iman, lalu ubah menjadi sebuah kekuatan yang membuat kita semakin tegar dalam menjalani kehidupan.
Mari sama-sama berproses, karena tulisan ini tidak bertujuan menggurui. Yang menulis pun masih dalam proses belajar. Semoga sama-sama kita tercerahkan. Wallahu a'lam
Jadi, selagi masih on dan supaya ide tersebut tak menguap sia-sia, maka ada baiknya disalin dulu ke sebuah wadah. Moga saja ada manfaatnya.
*****
Masih fokus pada tema kesehatan mental, yaitu merasakan emosi negatif.
Apa iya perlu?
Kehadiran emosi negatif di sela-sela kehidupan yang berjalan adalah hal yang manusiawi dan wajar.
Kita tak perlu menekannya atau bahkan memangkasnya saat ia datang.
Hidup ini begitu kompleks, terlalu banyak warna, dan lika-liku di sana sini.
Adalah tidak adil, jika ragam perasaan yang dianugerahi Tuhan tidak bisa disalurkan sebagaimana mestinya.
Tak hanya emosi positif, kita juga memiliki emosi negatif yang butuh untuk dirasakan.
Kita punya bahagia, dan kita juga punya rasa sedih. Kita punya rasa puas, dan kita juga punya kekecewaan. Semuanya butuh penyaluran yang tepat dengan reaksi yang terkendali.
Semuanya memiliki kontribusi yang pasti untuk menjaga kesehatan mental kita.
Hadirnya emosi negatif berfungsi sebagai penyeimbang agar tidak terjadi ketimpangan emosi dalam diri (ketidakstabilan emosi).
Tidak benar jika kita berkata kepada diri untuk tidak boleh sedih, tidak boleh kecewa, tidak boleh marah.
Jika kita terus-terusan memangkas rasa tersebut, maka kapan kita akan bisa dan cakap dalam mengelola setiap emosi negatif itu. Sedangkan kita hidup tidak bisa tidak bersinggungan dengan lingkungan, kehidupan kita mau tidak mau akan berdampak pada lingkungan sekitar, minimal keluarga. Siapa yang bisa menjamin, jika suatu waktu kita lost, dan tak mampu menghilangkan emosi negatif yang kita anggap tak perlu itu. Coba saja bayangkan apa yang bisa terjadi? Adalah sebuah bahaya besar. Karena sebenarnya yang kita anggap hilang, bukan benar-benar hilang melainkan mengendap dan terus mengendap sehingga suatu waktu menjadi bom api yang akan menghanguskan diri kita sendiri.
Nah, harusnya yang jadi pemikiran kita adalah, bagaimana kita bisa mengendalikan reaksi atas emosi tersebut agar tidak mencederai diri sendiri dan lingkungan.
لا تغضب، ولك الجنة!
Jangan marah, dan bagimu surga. Begitu tepatnya nasihat sang Nabi.
Jangan marah bukan tidak boleh marah, tapi mengubah rasa amarah menjadi energi positif yang memberikan efek baik bagi diri.
Marahlah, tapi tidak dengan reaksi tanpa kendali karena disitu pintu masuknya syaitan. Bagaimana caranya? jika kamu sedang berdiri maka duduklah, jika sedang duduk maka berbaringlah. Dan
Ini adalah seni yang tak dapat diraih melalui teori saja, melainkan dari latihan dan latihan sedari dini.
Makanya penting -pada saatnya- untuk membiarkan anak-anak menangis dan meluapkan semua emosinya.
Karena disitulah anak-anak belajar untuk mengendalikan emosi.
Bukan segera didiamkan sambil ngomong, jangan nangis ya.
Oke, mulai sekarang mari terima segala rasa sakit, kekecewaan, dan putus asa.
Terima sebagai bagaian dari diri.
Rasakan sakit dan sedihnya, kendalikan
Reaksinya dengan iman, lalu ubah menjadi sebuah kekuatan yang membuat kita semakin tegar dalam menjalani kehidupan.
Mari sama-sama berproses, karena tulisan ini tidak bertujuan menggurui. Yang menulis pun masih dalam proses belajar. Semoga sama-sama kita tercerahkan. Wallahu a'lam
Yuk Manjakan Diri
Kadangkala waktu bekerja yang panjang membuat kita lupa pada diri sendiri. Lupa bahwa ada hak diri untuk disenangkan dan dimanjakan. Menyenangkan diri bukan hanya berarti melepaskan tubuh dari beragam aktivitas yang menguras energi seperti merebah di kasur atau sejanak leyeh-leyeh sambil memainkan jemari di tombol smartphone sebagaimana orang-orang di era milenial sekarang ini. Tapi lebih dari itu, memanjakan diri adalah menyenangkan hati dan menenangkan pikiran dengan melakukan hal-hal yang disukai.
Jadi tubuh dan perasaan akan lebih fresh dan segar jika kita bisa mengambil sedikit waktu untuk melakukan kegiatan yang seru, fun, dan pastinya tidak menguras pikiran.
Salah satu kegiatan itu adalah menulis. Bagiku manfaat menulis sangatlah besar. Menulis bisa menjadi obat untuk tubuh yang lelah, hati yang lelah, juga pikiran yang lelah. Aku percaya dan sudah membuktikan apa yang disampaikan oleh banyak psychologist bahwa "writing is healing", menulis itu menyembuhkan.
Menulis bisa di mana saja, bisa di diary, notebook, atau di media lainnya yang banyak tersedia saat ini.
Namun, jika menulis di media sosial, tentu banyak hal yang harus diperhatikan. Selain kesantunan berbahasa, tulisanmu juga harus bebas sara. Tulislah apapun yang bisa memberikan manfaat, bukan sekedar curhat lepas untuk membuang semua sampah perasaan dengan mengedepankan keluh kesah, gugatan pada Tuhan, dan lain sebagainya. Karena kata-katamu adalah sugesti untuk dirimu. Kata yang baik akan memberikan efek positif begitu juga sebaliknya.
Selain menulis, sungguh banyak hal positif lainnya yang bisa dilakukan untuk meraih kesenangan tubuh dan pikiran. Yang penting kenali diri, karena dengan mengenal diri kita akan tau apa yang sedang dibutuhkan diri dan cara apa yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
***
Berbenah Yuk Berbenah
Jika tulisan di atas lebih fokus ke aktivitas menulis, tulisan kedua akan menyajikan sesuatu yang berbeda.
Yuk berbenah!
Meskipun kegiatan mengajar di luar rumah cukup padat, saya tetaplah seorang ibu rumah tangga yang tak pantas membuat-buat alasan untuk lepas dari pekerjaan rumah. Karena sejatinya kegiatan rumah inilah yang menjadi tugas wajib seorang perempuan yang sudah menikah.
Jika suami mengizinkan istri bertugas di luar, maka mau tidak mau istri harus sedikit berkorban, berani mengambil resiko dengan merelakan sisa waktu- yang harusnya bisa full digunakan beristirahat- untuk mengelola urusan domestik rumah tangga. Salah satunya berbenah. Saya suka sekali berbenah. Berbenah adalah satu hal yang sangat amat mengasikkan. Karena suka, maka saya tidak merasa terbebani dengan tugas ini.
Meletakkan sesuatu di tempatnya, merapikan yang berantakan, mencuci piring-piring kotor, menyapu lantai, adalah kegiatan yang sangat saya nikmati.
Bagi saya rumah yang rapi dan bersih akan membuat nyaman hati penghuninya. Rumah yang kotor dan berantakan akan membuat hati dan pikiran menjadi kusut. Jika pikiran kusut, maka emosi negatif akan sulit dikontrol.
Di antara kegiatan berbenah yang paling saya suka adalah menata buku-buku.
Deretan buku-buku yang rapi di rak akan membuat tampilan rumah menjadi aesthetic. Keberadaan buku-buku ini begitu berharga bagi saya, berharga dari segi kontennya, juga berharga dari segi nilai estetikanya di dalam rumah. Karena buku adalah hiasan rumah yang jauh lebih berharga dari lukisan yang nilainya jutaan rupiah.
Selain manata buku, menata dapur juga sangat saya senangi. Dapur adalah tempat favorit saya akhir-akhir ini. Jadi saya ingin
Dapur selalu tertata dan bebas dari tumpukan piring kotor. Bersihnya dapur adalah salah satu target ketuntasan saya setiap harinya. Intinya harus rapi dan bebas bau. Jika piring kotor ditumpuk dalam waktu yang cukup lama ( sehari saja) bisa menjadi sumber bau yang meresahkan hidung.
Pengelolaan sampah yang tepat juga bisa menekan bau, sampah harus dimasukkan ke dalam plastik sampah lalu dibuhul mati supaya bau tidak merembes keluar. Seperti inilah saya mengelola sampah sejak hijrah ke perkotaan. Kalau dahulu, sampah tidak perlu ditumpuk dulu baru dibuang/ menunggu petugas sampah membawanya. Cukup buang langsung ke tempat pembakaran lalu bakar, dan tugas pun selesai.
Selain berbenah harian seperti di atas, saya juga menyediakan waktu untuk berbenah pekanan terkhusus untuk yang menyita tenaga seperti menguras kamar mandi, membersihkan kolong dapur, membersihkan ricecooker.
Ya inilah salah satu kegiatan menyenangkan bagi ibu-ibu rumah tangga. Jika tugas wajib tertunaikan maka hati akan tenang dan menjadi kepuasan tersendiri di dalam batin. Wallahu a'lam
Jadi tubuh dan perasaan akan lebih fresh dan segar jika kita bisa mengambil sedikit waktu untuk melakukan kegiatan yang seru, fun, dan pastinya tidak menguras pikiran.
Salah satu kegiatan itu adalah menulis. Bagiku manfaat menulis sangatlah besar. Menulis bisa menjadi obat untuk tubuh yang lelah, hati yang lelah, juga pikiran yang lelah. Aku percaya dan sudah membuktikan apa yang disampaikan oleh banyak psychologist bahwa "writing is healing", menulis itu menyembuhkan.
Menulis bisa di mana saja, bisa di diary, notebook, atau di media lainnya yang banyak tersedia saat ini.
Namun, jika menulis di media sosial, tentu banyak hal yang harus diperhatikan. Selain kesantunan berbahasa, tulisanmu juga harus bebas sara. Tulislah apapun yang bisa memberikan manfaat, bukan sekedar curhat lepas untuk membuang semua sampah perasaan dengan mengedepankan keluh kesah, gugatan pada Tuhan, dan lain sebagainya. Karena kata-katamu adalah sugesti untuk dirimu. Kata yang baik akan memberikan efek positif begitu juga sebaliknya.
Selain menulis, sungguh banyak hal positif lainnya yang bisa dilakukan untuk meraih kesenangan tubuh dan pikiran. Yang penting kenali diri, karena dengan mengenal diri kita akan tau apa yang sedang dibutuhkan diri dan cara apa yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
***
Berbenah Yuk Berbenah
Jika tulisan di atas lebih fokus ke aktivitas menulis, tulisan kedua akan menyajikan sesuatu yang berbeda.
Yuk berbenah!
Meskipun kegiatan mengajar di luar rumah cukup padat, saya tetaplah seorang ibu rumah tangga yang tak pantas membuat-buat alasan untuk lepas dari pekerjaan rumah. Karena sejatinya kegiatan rumah inilah yang menjadi tugas wajib seorang perempuan yang sudah menikah.
Jika suami mengizinkan istri bertugas di luar, maka mau tidak mau istri harus sedikit berkorban, berani mengambil resiko dengan merelakan sisa waktu- yang harusnya bisa full digunakan beristirahat- untuk mengelola urusan domestik rumah tangga. Salah satunya berbenah. Saya suka sekali berbenah. Berbenah adalah satu hal yang sangat amat mengasikkan. Karena suka, maka saya tidak merasa terbebani dengan tugas ini.
Meletakkan sesuatu di tempatnya, merapikan yang berantakan, mencuci piring-piring kotor, menyapu lantai, adalah kegiatan yang sangat saya nikmati.
Bagi saya rumah yang rapi dan bersih akan membuat nyaman hati penghuninya. Rumah yang kotor dan berantakan akan membuat hati dan pikiran menjadi kusut. Jika pikiran kusut, maka emosi negatif akan sulit dikontrol.
Di antara kegiatan berbenah yang paling saya suka adalah menata buku-buku.
Deretan buku-buku yang rapi di rak akan membuat tampilan rumah menjadi aesthetic. Keberadaan buku-buku ini begitu berharga bagi saya, berharga dari segi kontennya, juga berharga dari segi nilai estetikanya di dalam rumah. Karena buku adalah hiasan rumah yang jauh lebih berharga dari lukisan yang nilainya jutaan rupiah.
Selain manata buku, menata dapur juga sangat saya senangi. Dapur adalah tempat favorit saya akhir-akhir ini. Jadi saya ingin
Dapur selalu tertata dan bebas dari tumpukan piring kotor. Bersihnya dapur adalah salah satu target ketuntasan saya setiap harinya. Intinya harus rapi dan bebas bau. Jika piring kotor ditumpuk dalam waktu yang cukup lama ( sehari saja) bisa menjadi sumber bau yang meresahkan hidung.
Pengelolaan sampah yang tepat juga bisa menekan bau, sampah harus dimasukkan ke dalam plastik sampah lalu dibuhul mati supaya bau tidak merembes keluar. Seperti inilah saya mengelola sampah sejak hijrah ke perkotaan. Kalau dahulu, sampah tidak perlu ditumpuk dulu baru dibuang/ menunggu petugas sampah membawanya. Cukup buang langsung ke tempat pembakaran lalu bakar, dan tugas pun selesai.
Selain berbenah harian seperti di atas, saya juga menyediakan waktu untuk berbenah pekanan terkhusus untuk yang menyita tenaga seperti menguras kamar mandi, membersihkan kolong dapur, membersihkan ricecooker.
Ya inilah salah satu kegiatan menyenangkan bagi ibu-ibu rumah tangga. Jika tugas wajib tertunaikan maka hati akan tenang dan menjadi kepuasan tersendiri di dalam batin. Wallahu a'lam
Sebuah Catatan Yang Tak Dapat Dimengerti, Kecuali Kita
Ini tentang perempuan gagahku
Yang dulu aku bersemayam di rahimnya
Perempuan dengan cinta yang terus mengalir bak sungai
mengalir dengan caranya
Walau tak seorang pun mengerti
Kecuali kita
Betapa kuingat dalam kisahmu
tersimpan empedu yang pahit mengendap jadi benalu
Tsunami kehidupan yang selalu datang berulang
Menghantam impian menguji kesabaran
Namun itu menghantarmu menjadi perempuan istimewa
bila diurai
tiada henti kita berbenah
menjemput kesadaran bahwa di kehidupan
Tak boleh kita lengah
Jangan membuat celah untuk jiwa yang serakah
jiwa yang pongah, lisan yang dipenuhi ghibah, asung dan fitnah
Kita adalah kita
Aku, juga tentang perempuan gagahku
Kebenaran kisah ada di lubuk hati kita
Tak ada yang bisa mengerti
Tak ada yang benar-benar tau
Kecuali kita
Perempuanku yang gagah, yang selalu tampak gagah
Dalam juang yang tak pernah mengenal lelah
Di kesendirian, dengan sayap yang patah
kini engkau tak muda lagi
pun nestapa masih enggan pergi
bersama kita berbagi menghadapi
karena Tuhan takkan biarkan kita sendiri
*Padang, 2021
Yang dulu aku bersemayam di rahimnya
Perempuan dengan cinta yang terus mengalir bak sungai
mengalir dengan caranya
Walau tak seorang pun mengerti
Kecuali kita
Betapa kuingat dalam kisahmu
tersimpan empedu yang pahit mengendap jadi benalu
Tsunami kehidupan yang selalu datang berulang
Menghantam impian menguji kesabaran
Namun itu menghantarmu menjadi perempuan istimewa
bila diurai
tiada henti kita berbenah
menjemput kesadaran bahwa di kehidupan
Tak boleh kita lengah
Jangan membuat celah untuk jiwa yang serakah
jiwa yang pongah, lisan yang dipenuhi ghibah, asung dan fitnah
Kita adalah kita
Aku, juga tentang perempuan gagahku
Kebenaran kisah ada di lubuk hati kita
Tak ada yang bisa mengerti
Tak ada yang benar-benar tau
Kecuali kita
Perempuanku yang gagah, yang selalu tampak gagah
Dalam juang yang tak pernah mengenal lelah
Di kesendirian, dengan sayap yang patah
kini engkau tak muda lagi
pun nestapa masih enggan pergi
bersama kita berbagi menghadapi
karena Tuhan takkan biarkan kita sendiri
*Padang, 2021
Pertentangan
Adalah tidak tepat jika seseorang memelihara paradigma bahwa menghadiri acara baralek (baca: walimah) diibaratkan seperti arisan atau julo-julo dalam bahasa minang.
Artinya, wajib saling membayar. Kamu datang walimahan saya, saya juga harus datang walimahan kamu. Kalau tidak, ya persiapkan dirimu untuk menerima sanksi sosial dari masyarakat. Mungkin seperti sebuah gunjingan dan lain sebagainya.
Tapi, sungguh ini membuat batin saya menjadi bergemuruh.
Karena yang saya tau, menghadiri undangan memanglah wajib. Itu salah satu tuntunan syari'at agar hubungan dengan sesama bisa terus dipeliharan. Bukan tersebab oleh logika "jika maka". Karena Itu layaknya seperti hutang yang jika tak dibayarkan akan menjadi masalah hingga datangnya kematian bahkan setelah kematian.
Masalah bersosial, tak bisa memakai logika yang kaku seperti itu.
Ini soal iman dan soal rasa. Manivestasi keimanan dalam menjalankan perintah Allah dan rasulnya dan rasa untuk saling menghargai dan juga saling memahami.
jika seseorang tidak datang menghadiri undangan, ini bukan berarti mereka tidak mau, bisa saja mereka memang memiliki halangan atau uzur yang tidak dapat ditinggalkan. Maka mari kita belajar untuk tidak pernah menghukumi siapapun. Jangan menebar masalah di belakang yang kita belum tentu tau apa yang sesungguhnya terjadi pada saudara kita.
Di lain hal. Termasuk mengunjungi saudara yang sakit.
Adalah hak seorang muslim atas muslim lainnya untuk dikunjungi saat sakit.
Bukan berarti sebuah kewajiban yang tak bisa tawar menawar. Bukankah agama ini memiliki rukhsah di antara jejeran perintah.
Rukhsah bisa dipilih sebagai pilihan terakhir saat kita benar-benar tak memiliki kemampuan.
Jika agama punya rukshah, bukankah kita juga perlu memahami akan uzur seseorang. Wallahu a'lam
Artinya, wajib saling membayar. Kamu datang walimahan saya, saya juga harus datang walimahan kamu. Kalau tidak, ya persiapkan dirimu untuk menerima sanksi sosial dari masyarakat. Mungkin seperti sebuah gunjingan dan lain sebagainya.
Tapi, sungguh ini membuat batin saya menjadi bergemuruh.
Karena yang saya tau, menghadiri undangan memanglah wajib. Itu salah satu tuntunan syari'at agar hubungan dengan sesama bisa terus dipeliharan. Bukan tersebab oleh logika "jika maka". Karena Itu layaknya seperti hutang yang jika tak dibayarkan akan menjadi masalah hingga datangnya kematian bahkan setelah kematian.
Masalah bersosial, tak bisa memakai logika yang kaku seperti itu.
Ini soal iman dan soal rasa. Manivestasi keimanan dalam menjalankan perintah Allah dan rasulnya dan rasa untuk saling menghargai dan juga saling memahami.
jika seseorang tidak datang menghadiri undangan, ini bukan berarti mereka tidak mau, bisa saja mereka memang memiliki halangan atau uzur yang tidak dapat ditinggalkan. Maka mari kita belajar untuk tidak pernah menghukumi siapapun. Jangan menebar masalah di belakang yang kita belum tentu tau apa yang sesungguhnya terjadi pada saudara kita.
Di lain hal. Termasuk mengunjungi saudara yang sakit.
Adalah hak seorang muslim atas muslim lainnya untuk dikunjungi saat sakit.
Bukan berarti sebuah kewajiban yang tak bisa tawar menawar. Bukankah agama ini memiliki rukhsah di antara jejeran perintah.
Rukhsah bisa dipilih sebagai pilihan terakhir saat kita benar-benar tak memiliki kemampuan.
Jika agama punya rukshah, bukankah kita juga perlu memahami akan uzur seseorang. Wallahu a'lam
Memasak, Separuh Bahagiaku
Banyak hal penyumbang kebahagiaan. Bisa dari keluarga, pekerjaan, hobi dan sebagainya.
Bagiku, saat ini, memasak adalah hobi baru yang membuatku tertarik dan merasa tertantang.
Ini bukan memasak yang biasa, bukan hidangan hari-hari yang disajikan dalam keluarga. Melainkan hidangan baru yang belum pernah kucoba sebelumnya.
Bermula dari kegemaran menonton saluran youtube. Mulai dari acara yang bisa dibilang monoton tentang tutorial bikin ini dan itu. Sampai saluran yang cukup kreatif yang tak hanya menyajikan kegiatan masak memasak tapi juga menawarkan hal lain yang indah untuk dinikmati. Seperti memasak di tengah salju turun, memasak sayuran yang dipetik sendiri di kebun sekeliling rumah sambil memperlihatkan suasana desa dan perkebunan yang membuat mata terasa sejuk memandangnya.
Namun semasa itu, belum ada keinginan kuat untuk mencoba, meskipun sudah banyak resep yang disimpan baik di beranda facebook maupun di daftar tonton nanti di youtube. Ya, mungkin mindsetnya kemarin salah. Aku merasa waktu terlalu sempit untukku bisa berkreasi di tengah panjangnya waktu bekerja sekaligus momong anak.
Nah, baru sekarang lah aku memulai untuk menyicil, mencoba satu-satu resep itu. Kurang tau juga kenapa begitu tiba-tiba. Tapi tentunya aku merasa sangat bersyukur.
Dari beberapa yang kucoba, beberapa gagal. Mungkin karena belum nemu resep yang pas untuk alat-alat sederhana yang kupunya. Seperti cake. Aku harus lebih banyak belajar. Tapi lumayanlah untuk bekal cemilan anak-anakku selama ikut umi abinya ke sekolah.
Ternyata memasak "hal baru" itu, makin dicoba, makin ketagihan. Pekan kemarin aku mencoba membuat dorayaki ala ala. Pekan ini kucoba membuat kulit tortilla untuk kebab. Anak-anak suka, abinya anak-anak juga suka.
Sekarang tiap hari malah mikirin apalagi yang mau dicoba. Mau eksekusi resep mana lagi. Dan kini waktu terasa kian panjang.
Bahkan sekarang dalam sehari bisa 5x kali manasin kompor.
Capek? alhamdulillah tidak. Karena memasak adalah bahagian dari cinta. Dan semua tahu bahwa cinta bisa memantik rasa bahagia.
Rasa lelah, capek, akan menguap segera tatkala yang dicinta bisa menikmati hidangan dengan rasa puas dan penuh gembira.
Agustus, 2021
Bagiku, saat ini, memasak adalah hobi baru yang membuatku tertarik dan merasa tertantang.
Ini bukan memasak yang biasa, bukan hidangan hari-hari yang disajikan dalam keluarga. Melainkan hidangan baru yang belum pernah kucoba sebelumnya.
Bermula dari kegemaran menonton saluran youtube. Mulai dari acara yang bisa dibilang monoton tentang tutorial bikin ini dan itu. Sampai saluran yang cukup kreatif yang tak hanya menyajikan kegiatan masak memasak tapi juga menawarkan hal lain yang indah untuk dinikmati. Seperti memasak di tengah salju turun, memasak sayuran yang dipetik sendiri di kebun sekeliling rumah sambil memperlihatkan suasana desa dan perkebunan yang membuat mata terasa sejuk memandangnya.
Namun semasa itu, belum ada keinginan kuat untuk mencoba, meskipun sudah banyak resep yang disimpan baik di beranda facebook maupun di daftar tonton nanti di youtube. Ya, mungkin mindsetnya kemarin salah. Aku merasa waktu terlalu sempit untukku bisa berkreasi di tengah panjangnya waktu bekerja sekaligus momong anak.
Nah, baru sekarang lah aku memulai untuk menyicil, mencoba satu-satu resep itu. Kurang tau juga kenapa begitu tiba-tiba. Tapi tentunya aku merasa sangat bersyukur.
Dari beberapa yang kucoba, beberapa gagal. Mungkin karena belum nemu resep yang pas untuk alat-alat sederhana yang kupunya. Seperti cake. Aku harus lebih banyak belajar. Tapi lumayanlah untuk bekal cemilan anak-anakku selama ikut umi abinya ke sekolah.
Ternyata memasak "hal baru" itu, makin dicoba, makin ketagihan. Pekan kemarin aku mencoba membuat dorayaki ala ala. Pekan ini kucoba membuat kulit tortilla untuk kebab. Anak-anak suka, abinya anak-anak juga suka.
Sekarang tiap hari malah mikirin apalagi yang mau dicoba. Mau eksekusi resep mana lagi. Dan kini waktu terasa kian panjang.
Bahkan sekarang dalam sehari bisa 5x kali manasin kompor.
Capek? alhamdulillah tidak. Karena memasak adalah bahagian dari cinta. Dan semua tahu bahwa cinta bisa memantik rasa bahagia.
Rasa lelah, capek, akan menguap segera tatkala yang dicinta bisa menikmati hidangan dengan rasa puas dan penuh gembira.
Agustus, 2021
Langganan:
Postingan (Atom)