Selasa, 03 September 2024
Diary Ibu : Varicella Lagi
Senin, 02 September 2024
IAH
Minggu, 01 September 2024
Notasi Cinta Untuk Ibuk
Jumat, 30 Agustus 2024
Diary ibu ; Ketika Wabah Menjangkiti
Cacar air kembali mewabah. Alhamdulillah anakku kebagian juga. Anak sulung, yang sedang menempuh pendidikan Sekolah dasar. Sebelumnya hampir separuh teman kelasnya yang libur disebabkan penyakit serupa. Wali kelas mengirimkan informasi waspada di grup kelas sekaligus mengingatkan orang tua agar anak yang terinfeksi untuk libur dulu. Guru-guru panik memikirkan bagaimana menuntaskan pelajaran, para wali murid lain cemas jika anaknya tertular.
Aku berusaha santai namun tetap memasang kewaspadaan dengan memberikan suplemen tambahan kepada anak-anak. Baru dua bulan lalu kami sekeluarga diserang cacar air . Semuanya tertular, termasuk aku dan suami. Dan dalam otakku, kemungkinan besar anakku tidak akan terinfeksi lagi karena katanya infeksi cacar hanya sekali seumur hidup.
Namun, qadarullah, anakku diserang untuk kedua kalinya. Ternyata Informasi bahwa Infeksi cacar sekali seumur hidup tidak berlaku lagi untuk sekarang ini. Virus sudah mempunyai resistensi terhadap obat atau anti virus yang dulu pernah diberikan. So, tidak ada jaminan kita aman dari serangan virus varicella ini. Jika imun sedang lemah maka kita berpotensi terinfeksi lagi.
Sebagai ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil. Menangani wabah seperti cacar ini sungguh sulit. Perasaan ibu sangat dimainkan. Tak hanya kerepotan dalam memberi obat, tapi juga menjaga dengan ketat agar anak yang belum terinfeksi tidak ikut ketularan. Begitu juga menjaga perasaan anak yang sedang diisolasi. Memikirkan bagaimana dia tidak berkecil hati, bagaimana menjaga moodnya agar tidak bosan. Tapi, anak-anak tetaplah anak-anak, mau dikasih pengertian berapa kalipun, akhirnya kebobolan juga. Dan pada akhirnya terjadi juga kontak fisik dengan saudaranya. Aku faham betul, betapa tidak enaknya di kamar sendirian. Ibu tidak selalu bisa menemani karena adik bayi masih butuh dikeloni. Jikalau saja tubuh bisa dibagi dua, maka akan ibu bagi dua. Tapi mana mungkin.
Lanjut ke kerempongan yang lain. Yaitu pemberian antibiotik setiap 5 jam sekali. Ini benar-benar menguras tenaga dan perasaan. Meski udah diatur sedemikian rapihnya tapi tetap aja akan mengganggu waktu tidur anak. Coba bayangkan, anak lemes, lagi enak-enak tidur dibangunkan. Harus pakai drama dulu, dan kadang pun terpaksa gagal karena obat yang tumpah.
Belum lagi gagalnya usaha ibu menjaga anak yang lain. Mereka yang akhirnya terinfeksi juga . Di kasus dua bulan lalu itu selisih satu pekan, sepekan abang sakit, adik kedua tertular, sepekan setelah itu adik bungsu pun tertular. Alhamdulillah, libur ibu jadi makin panjang jadi 1 bulan. Dan menjadi lengkaplah segala daya dan upaya. Ibu dan ayah harus menjadi sandaran paling kuat untuk menangani semuanya.
Melalui hari demi hari, minum obat dan oles salep tanpa henti, sembari berharap anak lekas sembuh dan segala bekas di wajah dan badannya bisa hilang menjadi mulus bersih seperti sedia kala.
Note ; Cerita Ini datang dari seorang ibu rumah tangga sekaligus guru di sekolah. Sekarang dikasih libur dulu, menikmati dan tetap mensyukuri segala keadaan. *diary ibu, 2024
Senin, 26 Agustus 2024
Mendidik Dididik
Kamis, 08 Agustus 2024
Ibu ; Catatan Tengah Malam
Senin, 22 Juli 2024
Diary Ibu : Makanan Sehat
Tetiba kangen menulis. Deretan draft di HP sudah sangat menumpuk, menunggu dikembangkan. Aku mencoba menilik satu persatu dan memilih satu tema yang menjadi concernku saat ini. Aku ingin sedikit berbagi tentang realita keseharianku sebagai seorang ibu yang baru saja melek tentang konsep "healthy food" untuk kesehatan keluarga jangka panjang.
Sebenarnya dari dulu aku cukup pemilih soal makanan, terutama untuk anak-anak. Cuma adakalanya longgar di beberapa keadaan dan membiarkan anak-anak mengkonsumsi makanan food industry yang dibeli di supermarket, meskipun tetap membatasi pada makan tertentu dan brand tertentu saja. Seperti marie-marie an atau wafer. Selain itu aku juga suka membelikan anak-anak makanan tradisional lokal produksi home industry yang masih berkemungkinan menggunakan bahan berbahaya.
Tapi beberapa bulan belakangan, aku seperti diberi kesadaran oleh banyak hal, seperti keadaan anak yang sakit, sering batuk dan sesak nafas. Juga dari obrolan dengan para sahabat di tempat aku bekerja, tentang beragam kemungkinan yang membuat anak-anak sering sakit.
Setelah itu, aku jadi sering membuka saluran kesehatan di youtube. Yang kemudian memberiku banyak pemahaman bahwa betapa pentingnya suatu "ilmu" yang kemudian menjadi landasan pengetahuan menuju hidup yang lebih sehat.
Aku jadi tau rahasia kotor dari food industry, yang menyamarkan nama ingredient berbahaya dalam kemasannya. Aku pun jadi tau bahwa makanan terbaik adalah makanan jenis whole food / makanan utuh seperti sayuran, ikan dan daging segar, buah-buahan dll. Bukan UPF (ultra process food) / makanan olahan; seperti sosis, nugget dll. Meskipun berlabel halal, tanpa pengawet dan sehat. Semua itu hanyalah teknik marketing yang membuat kita tertipu. (Klik https://youtu.be/h_one1PyE64?si=9vYCeJI-1e81RNNL )
Dari beragam fakta yang kuketahui tersebut, aku merasa bersemangat untuk hijrah perlahan soal pemilihan makanan. Aku jadi punya motivasi yang tinggi untuk mengolah sendiri cemilan anak-anak. Dan untuk mewujudkan itu, butuh waktu dan tenaga ekstra di sela waktu rehat sepulang bekerja. Sejauh ini segalanya berjalan sangat baik, karena saat ini aku punya aktivitas baru yang membantuku tetap bugar dan kuat. Tentang ini aku akan bercerita di lain waktu pada tulisan berikutnya.
Dalam hijrah ini, aku tidak memilih proses yang instan dan cepat. Aku memulai dengan perlahan. Aku sadar bahwa saat ini aku masih ketergantungan dengan bahan makanan olahan seperti tepung-tepungan. Aku fokus dengan ikhtiar kita menekan keberadaan makanan food industry di rumah. Tak ada wafer, tak ada cookies coklat, dan tak ada sosis. Cemilan anak-anak kuolah sendiri dari bahan-bahan utuh seperti pisang, ubi dan kentang. Menunya bisa dkreasikan menjadi aneka makanan yang disukai anak-anak. Dengan begitu, makanan anak-anak bebas dari ingredient berbahaya seperti pengawet, pemanis buatan, perisa sintetik, dan aneka jenis menguat rasa.
Semoga usaha ini berjalan konsisten dan menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Kalau bukan kita, siapa lagi?