Selasa, 03 September 2024

Diary Ibu : Varicella Lagi

Infeksi varicella sudah berjalan sepekan di area rumahku. Orang pertama yang terinfeksi adalah si sulung. Sepertinya ketularan dari teman sekelas yang sebelumnya menderita penyakit serupa. Di beberapa hari pertama, pikiranku menjadi sangat terganggu. Banyak kecemasan yang bermunculan di kepala. Kenapa? Karena wali kelas si sulung mengatakan bahwa pekan ini adalah pekan tes sumatif, dan beberapa hari lagi ujian tengah semester pun akan dimulai. Selain itu bagaimana menjaga anak tengah dan sibungsu agar ga ketularan sedangkan mereka biasa bermain bersama, dan kalau akhirnya ketularan gimana ngadepinnya, serta ada perasaan ga enak ke atasan karena aku pasti bakal libur kerja dalam waktu yang panjang. Subhanallah, semua itu bersarang di kepalaku setiap waktu. 
Tapi sekarang isi otakku sudah mulai rapih lagi. Hari demi hari kucoba menata pikiran. Mengklasifikasikan masalah dari yang paling darurat hingga ringan, sehingga aku tau mana yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu, aku pun bisa menuntaskan masalah satu persatu dengan lebih ringan. Kemudian perlunya sikap "acceptance" Atau menerima keadaan yang menimpa.  Bahwa ini takdir, dan tidak boleh ada penolakan atau pertanyaan. Sehingga aku bisa secara jernih memaksimalkan usaha preventif dan kuratifnya. Setelah itu kuberserah pada Allah apapun yang terjadi itu terjadi atas kuasa dan kehendakNya. Dan aku akan menjalani saja dengan segala kekuatan diri yang kupunya. 
Di saat tulisan ini kutulis, anak tengahku akhirnya terinfeksi dari abangnya. Suamiku juga, karena saat cacar air datang ke rumah, suami  dalam keadaan sakit dan imun beliau sedang lemah, jadi dengan mudahnya virus itu menjangkiti. Tersisa aku dan sibungsu. Aku terus berbicara pada diriku sendiri bahwa aku harus kuat. Setiap waktu kukatakan bahwa aku kuat. Semoga Allah mengijabah harapanku sehingga aku bisa menjadi tameng keluarga sementara ketika suami terbaring lemah. 
Aku menerima, karena aku sudah berusaha.  Beberapa saran dari teman-teman sudah kulakukan semampuku. Pisah kamar, booster imun, konsumsi banyak protein, menghindari kontak fisik dan lain sebagainya. Tapi apa daya, beberapa dari kami terinfeksi juga. Aku menerima karena sakit tidak selalu menjadi musibah, bahkan di saat sekelilingku sakit aku menjadi lebih banyak bersyukur karena begitu banyak kemudahan yang Allah berikan di balik kesusahan yang kuterima.
Banyak chat dari kawan yang bertanya, kemarin udah kena cacar, kok bisa kena lagi sih? Sekali lagi kujawab. Waktu konsultasi ke dokter saat infeksi cacar dua bulan lalu aku sudah menanyakan hal ini ke dokter, apakah kita bisa terinfeksi dua kali? Dan dokter menjawab, bisa. Jika imun tubuh sedang menurun maka virus cacar bisa menyerang untuk kedua kalinya. 
Apakah ini karena anak-anakku tidak diimunisasi? Tidak juga, karena aku dulu imunisasi cacar, tapi kena cacar juga. Suamiku pun imunisasi, tapi kena juga. Yang kutau dari dokter saat aku dan suami menolak pemberian imunisasi kepada anak kami ; imunisasi tidak membuat kita kebal virus, tapi meringankan efek serangan virus. Wallahu a'lam

Senin, 02 September 2024

IAH

Kali ini aku merasa sendiri
Tak ada yang peduli dan mengajak berkomunikasi
Hanya note-note kosong menanti 
Agar segera dicurahkan segala isi hati
Kemana dia yang dulu selalu di sisi
Yang tersenyum dengan lesung di pipi
Mendengar segala kesuh kesah diri
Yang turut berbahagia tatkala sempurna hari hari

Apakah kali ini atau seterusnya
Karena lelah terasa lebih nyata
Tatkala dia tak lagi mau menerima
Apapun selalu menjadi prahara
Membuat kusut isi kepala
Juga sakit di sekujur jiwa dan raga
Pada akhirnya ini menjadi satu tanda tanya
Apakah ini saatnya
Menyerah dengan menanggalkan semua 
atribut bersamanya

Tapi rasa ini mungkin saja salah
Karena pikiran sedang dijajah gundah
Sulit menilai seberapa ini parah
Sehingga sulit untuk mengalah
Apalagi menerima kesalahan, jelas susah
Hingga kini diri dirundung pasrah
Yang dimampu hanyalah berserah
Pada semua ketentuan dan petunjuk Allah


Minggu, 01 September 2024

Notasi Cinta Untuk Ibuk

Buk, kita sama sama tau betapa kita saling mengasihi. 
Kasih sayang yang terbentuk bukan hanya dari pertalian darah, tapi juga dari pembiasaan, serta dari gesekan-gesekan kecil yang terus menambah kelekatan. 
Kita sadar betul bahwa keluarga adalah tempat kita menaruh segala kepercayaan. Tak ada keluarga yang mengkhianati, tak ada keluarga yang berpaling saat kita rubuh hancur dan remuk. 
Keluarga pulalah tempat pulang ternyaman, di saat jiwa tlah lelah dalam pengembaraannya, mencari jutaan makna di dunia.
Dan keluarga itu adalah kita. Ya, kita. 
Buk, aku ingat beberapa kesimpulan yang kita ambil dari rentetan panjang peristiwa kehidupan  kala itu. Bahwa ke depan kita akan terus berpegangan saat goncangan dari kanan kiri berusaha menghempaskan. Bahwa ke depan kita akan selalu ingat bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah tujuan kita. Bahwa dari sekarang hanya kita yang tau hidup kita serta sejarah yang ada di belakangnya. Tak akan ada yang mengerti dan takkan ada yang bisa mengerti kecuali kita. 
Buk, darimu aku belajar menguatkan diri. Saat takdir yang berjalan menyelisihi keinginan hati. Darimu kudapatkan sikap keras kepala untuk mewujudkan segala mimpi. Darimu juga aku belajar menghargai setiap perjuangan. Darimu aku belajar berjuang mempertahankan hak-hak kita, dan belajar mengikhlaskan saat hak tersebut dirampas paksa. Dari kisahmu aku belajar bahwa bagaimanapun kerasnya hidup akan selalu ada kemudahan yang menyertainya.
Terima kasih Buk, atas segala penerimaanmu atas diriku. Dari kekurangan dan kelebihanku sebagai anakmu. Dari kegagalanku dalam memenuhi impianmu. 
Yang mana aku sering memilih jalan lain sementara kau telah menyediakanku  jalan yang menurutmu benar. 
Aku jauh luar biasa senang hari ini. Karena sekarang wajahmu tampak lebih ceria. Ibadahmu semakin banyak, dan aku melihat perubahan yang sangat besar dalam caramu memandang segala hal. 
Buk, aku ingin ibuk bahagia. Segala hal yang terjadi di belakang biarlah menjadi sejarah dan bukti perjuangan kita menuju hari ini. Berbahagialah Buk. Pergilah kemana ibuk suka. 
Mau di kampung atau di rumahku kemana ibuk mau. Ada anak, cucu-cucu dan menantu yang akan menambah kegembiraan. 
Buk, Terima kasih segalanya ya Buk. 

Jumat, 30 Agustus 2024

Diary ibu ; Ketika Wabah Menjangkiti

Cacar air kembali mewabah. Alhamdulillah anakku kebagian juga. Anak sulung, yang sedang menempuh pendidikan Sekolah dasar. Sebelumnya hampir separuh teman kelasnya yang libur disebabkan penyakit serupa. Wali kelas mengirimkan informasi waspada di grup kelas sekaligus mengingatkan orang tua agar anak yang terinfeksi untuk libur dulu. Guru-guru panik memikirkan bagaimana menuntaskan pelajaran, para wali murid lain cemas jika anaknya tertular.
Aku berusaha santai namun tetap memasang kewaspadaan dengan memberikan suplemen tambahan kepada anak-anak. Baru dua bulan lalu kami sekeluarga diserang cacar air . Semuanya tertular, termasuk aku dan suami. Dan dalam otakku, kemungkinan besar anakku tidak akan terinfeksi lagi karena katanya infeksi cacar hanya sekali seumur hidup.
Namun, qadarullah, anakku diserang untuk kedua kalinya. Ternyata Informasi bahwa Infeksi cacar sekali seumur hidup tidak berlaku lagi untuk sekarang ini. Virus sudah mempunyai resistensi terhadap obat atau anti virus yang dulu pernah diberikan. So, tidak ada jaminan kita aman dari serangan virus varicella ini.  Jika imun sedang lemah maka kita berpotensi terinfeksi lagi.
Sebagai ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil. Menangani wabah seperti cacar ini sungguh sulit. Perasaan ibu sangat dimainkan. Tak hanya kerepotan dalam memberi obat, tapi juga menjaga dengan ketat agar anak yang belum terinfeksi  tidak ikut ketularan. Begitu juga menjaga perasaan anak yang sedang diisolasi. Memikirkan bagaimana dia tidak berkecil hati, bagaimana menjaga moodnya agar tidak bosan. Tapi, anak-anak tetaplah anak-anak, mau dikasih pengertian berapa kalipun, akhirnya kebobolan juga. Dan pada akhirnya terjadi juga kontak fisik  dengan saudaranya. Aku faham betul, betapa tidak enaknya di kamar sendirian. Ibu tidak selalu bisa menemani karena adik bayi masih butuh dikeloni. Jikalau saja tubuh bisa dibagi dua, maka akan ibu bagi dua. Tapi mana mungkin.
Lanjut ke kerempongan yang lain. Yaitu pemberian antibiotik setiap 5 jam sekali. Ini benar-benar menguras tenaga dan perasaan. Meski udah diatur sedemikian rapihnya tapi tetap aja akan mengganggu waktu tidur anak. Coba bayangkan, anak lemes, lagi enak-enak tidur dibangunkan. Harus pakai drama dulu, dan kadang pun terpaksa gagal karena obat yang tumpah.
Belum lagi gagalnya  usaha ibu menjaga anak yang lain. Mereka yang akhirnya terinfeksi juga . Di kasus dua bulan lalu itu selisih satu pekan, sepekan abang sakit, adik kedua tertular, sepekan setelah itu adik bungsu pun tertular. Alhamdulillah, libur ibu jadi makin panjang jadi 1 bulan. Dan menjadi lengkaplah segala daya dan upaya. Ibu dan ayah harus menjadi sandaran paling kuat untuk menangani semuanya.
Melalui hari demi hari, minum obat dan oles salep tanpa henti, sembari berharap anak lekas sembuh dan segala bekas di wajah dan badannya bisa hilang menjadi mulus bersih seperti sedia kala.
Note ; Cerita Ini datang dari seorang ibu rumah tangga sekaligus guru di sekolah. Sekarang dikasih libur dulu, menikmati dan tetap mensyukuri segala keadaan. *diary ibu, 2024

Senin, 26 Agustus 2024

Mendidik Dididik

Terkadang kita sebagai orang tua tidak sabar menunggu kesuksesan dari penetrasi nilai yang kita tanamkan pada anak. Kita cenderung menginginkan hasil yang instant dan terlalu egois sebagai orang dewasa sehingga enggan  menikmati proses demi prosesnya . Hari ini mereka dinasehati, besok harus berubah. Hari ini nilai-nilai ditanamkan, besok harus menampakkan putik, bahkan berbuah. And, kala itu, no excuse! tak ada alasan dan pertentangan. Kita lupa bahwa manusia di sepanjang hidupnya memiliki kesempatan yang luas untuk terus berproses. Tapi kita seolah mengabaikan masa berproses ini. Kita tidak memberikan waktu yang cukup untuk mereka berpikir, merenung, serta bertanya apa dan mengapa. Kita tidak memberikan ruang  untuk mereka belajar mengendalikan diri dan emosi. Kita juga tak memberikan waktu untuk mereka jatuh bangun, jatuh lagi kemudian bangkit lagi dari suatu keterpurukan. Yang mana semua proses ini sangat dibutuhkan untuk kematangan diri mereka di masa depan. 
Asumsi ini tidak serta merta muncul begitu saja. Betapa sering telinga ini mendengar kalimat-kalimat kekecewaan dari mulut orang tua, yang menggambarkan ketidakmampuan anak dalam memperbaiki diri.
 "sudah berkali-kali dibilangin, tidak juga berubah" 
"kamu kok ga ngerti-ngerti sih, yang kamu lakukan ini salah" 
"Patuh aja kok susah, ini baik untuk kamu"
atau dengan bahasa lain yang senada. Yang seolah kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin untuk perubahan mereka kepada yang lebih baik. Padahal sebenarnya, kitalah yang belum memberikan mereka waktu untuk berproses. Semakin besar usia anak, tentu pemikirannya berangsur matang. Pikiran dan hati yang jernih akan membantu mereka untuk tau apa yang baik untuk dirinya. Terkadang dia butuh dihargai, bukan didikte. Terkadang dia butuh diajak diskusi untuk membantunya memahami, bukan memaksanya ikut apa yang kita mau tanpa kita tau apa yang dia mau. 
Lagi lagi, mendidik adalah tanggung jawab yang besar. Dan sepertinya kesuksesan dalam mendidik anak adalah sebuah prestise yang besar pula. Namun, memberi beban dan tekanan pada anak demi sebuah kebanggan tidaklah benar. Baik buruknya anak mereka tetaplah anak kita, aset kita yang paling berharga. Tugas kita hanya berusaha dengan terus  menanamkan nilai nilai baik dalam dirinya. Tidak boleh ada kata bosan dalam mendidik. Lakukan terus, baik melalui nasehat ataupun keteladanan. Setelahnya, serahkan semuanya pada Allah. Karena Allahlah yang Maha membolak balikkan hati, Allah Sang pemberi hidayah, serta atas izinNya pulalah seseorang bisa mejadi baik atau buruk. 
Akhirul kalam, sesungguhnya mendidik itu dididik. 

Kamis, 08 Agustus 2024

Ibu ; Catatan Tengah Malam

Keseharianku sederhana, namun berharga. Di rumah, aku perempuan dewasa yang menyandang status sebagai istri dan ibu. Sedangkan di luar, aku adalah guru bagi murid-muridku. 
Dalam 24 jam, 9 jam waktu kuhabiskan di sekolah. 15 jam sisanya di rumah. Secara kasat mata, waktu di rumah lebih panjang daripada di sekolah. Tapi, sebenarnya waktu di rumah sangatlah singkat. Dan dalam kondisiku ini, pulang ke rumah seyogyanya adalah pulang untuk beristirahat. 
Sebagai ibu, walau bekerja di luar, aku tak bisa menghabiskan semua sisa waktuku untuk santai dan rehat. Aku punya tanggung jawab yang tidak bisa diskip begitu saja. Jika ayah adalah pencari nafkah, pulang baginya adalah untuk istirahat dan santai bersama keluarga. Bagiku tentu tidak, bekerja di luar adalah sunnah. Sedangkan kewajibanku ada di rumah. Aku tidak mau menjadikan alasan lelah dan capek sebagai tameng untuk lepas dari tugas. 
Untuk itu, aku perlu memelihara semangat agar bisa menunaikan kewajiban dengan senang hati. Dengan itu aku dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang tak bisa kugambarkan dalam kata-kata. 
Dapat menyediakan semua keperluan keluarga setiap harinya, dapat membimbing anak belajar serta menemaninya bercerita segala hal yang dialami seharian, MasyaAllah! Inilah kebahagiaanku. 
Aku tak mengharapkan apapun kecuali apa yang sudah Allah janjikan. Semoga aku bisa menjaga keikhlasan niat karena Allah ta'ala di masa kini hingga seterusnya. 

Senin, 22 Juli 2024

Diary Ibu : Makanan Sehat

Tetiba kangen menulis. Deretan draft di HP sudah sangat menumpuk, menunggu dikembangkan. Aku mencoba menilik satu persatu dan memilih satu tema yang menjadi concernku saat ini. Aku ingin sedikit berbagi tentang realita keseharianku sebagai seorang ibu yang baru saja melek tentang konsep "healthy food" untuk kesehatan keluarga jangka panjang.
Sebenarnya dari dulu aku cukup pemilih soal makanan, terutama untuk anak-anak. Cuma adakalanya longgar di beberapa keadaan dan membiarkan anak-anak mengkonsumsi makanan food industry yang dibeli di supermarket, meskipun tetap membatasi pada makan tertentu dan brand tertentu saja. Seperti marie-marie an atau wafer. Selain itu aku juga suka membelikan anak-anak makanan tradisional lokal produksi home industry yang masih berkemungkinan menggunakan bahan berbahaya.
Tapi beberapa bulan belakangan, aku seperti diberi kesadaran oleh banyak hal, seperti keadaan anak yang sakit, sering batuk dan sesak nafas. Juga dari obrolan dengan para sahabat di tempat aku bekerja, tentang beragam kemungkinan yang membuat anak-anak sering sakit.
Setelah itu, aku jadi sering membuka saluran kesehatan di youtube. Yang kemudian memberiku banyak pemahaman bahwa betapa pentingnya suatu "ilmu" yang kemudian menjadi landasan pengetahuan menuju hidup yang lebih sehat.
Aku jadi tau rahasia kotor dari food industry, yang menyamarkan nama ingredient berbahaya dalam kemasannya. Aku pun jadi tau bahwa makanan terbaik adalah makanan jenis whole food / makanan utuh seperti sayuran, ikan dan daging segar, buah-buahan dll. Bukan UPF (ultra process food) / makanan olahan; seperti sosis, nugget dll. Meskipun berlabel halal, tanpa pengawet dan sehat. Semua itu hanyalah teknik marketing yang membuat kita tertipu. (Klik https://youtu.be/h_one1PyE64?si=9vYCeJI-1e81RNNL )
Dari beragam fakta yang kuketahui tersebut, aku merasa bersemangat untuk hijrah perlahan soal pemilihan makanan. Aku jadi punya motivasi yang tinggi untuk mengolah sendiri cemilan anak-anak. Dan untuk mewujudkan itu, butuh waktu dan tenaga ekstra di sela waktu rehat sepulang bekerja. Sejauh ini segalanya berjalan sangat baik, karena saat ini aku punya aktivitas baru yang membantuku tetap bugar dan kuat. Tentang ini aku akan bercerita di lain waktu pada tulisan berikutnya.
Dalam hijrah ini, aku tidak memilih proses yang instan dan cepat.  Aku memulai dengan perlahan. Aku sadar bahwa saat ini aku masih ketergantungan dengan bahan makanan olahan seperti tepung-tepungan. Aku fokus dengan ikhtiar kita menekan keberadaan makanan food industry di rumah. Tak ada wafer, tak ada cookies coklat, dan tak ada sosis. Cemilan anak-anak kuolah sendiri dari bahan-bahan utuh seperti pisang, ubi dan kentang. Menunya bisa dkreasikan menjadi aneka makanan yang disukai anak-anak. Dengan begitu, makanan anak-anak bebas dari ingredient berbahaya seperti pengawet, pemanis buatan, perisa sintetik, dan aneka jenis menguat rasa.
Semoga usaha ini berjalan konsisten dan menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Padang, Juli 2024