Tampilkan postingan dengan label corat coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat coret. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

akan kutemani kau malam


Sudah hampir satu minggu ini saya selalu tidur cepat. Baru saja jarum jam beranjak pada pukul 20.00, saya sudah tepar. Entahlah ya, entah kenapa tubuh ini terasa sangat letih. Padahal waktu di sekolah hanya saya habiskan setengah hari. Pada jam 13.30 saya sudah pulang.

Saya pikir, mungkin karena berkoar-koar menjelaskan pelajaran. Energi saya menjadi terkuras. Tambah lagi tingkah polah murid saya yang nakal minta perhatian. Hufh, Membuat saya selalu nyinyir mengingatkan mereka. Pulang-pulang tenggorokan saya udah sakit. but saya tetap senang. Puas sekali.

Dan sekarang, saya akan puaskan diri saya menikmati malam. Saya menulis. Saya berekspresi. Saya dengarkan lagu favorit saya. Hmm… tambah enak sambil ngemil cemilan kesukaan saya “Gery chocolates”.. ummm… nyummy sekali.

“ Malam.., kali ini akan kutemani kau saat orang-orang tertidur mengacuhkan keindahanmu…”

Meraih Kemerdekaan Diri


Adakah kawan seperti saya di masa lalu? Saya harap tidak, karena saya tak mau kawan kehilangan kemerdekaan diri seperti saya.



Beberapa tahun lalu, saya tiba-tiba menjadi tertutup dalam hubungan pertemanan. Lingkungan, kisah masa lalu, serta dorongan naluri membuat saya selalu membatasi diri untuk berteman dengan orang baru. Kalau pun punya teman, saya harus memilih dulu. Saya adakan masa percobaan, jika mereka baik MENURUT SAYA, yok welcome. Kita berteman.

Jumat, 14 Oktober 2011

Apa Itu Bahagia? pertanyaan bodoh ketika datangnya kesedihan

mengapa orang -orang selalu mendoakan saya agar saya bahagia....?
seperti apakah bahagia yang mereka maksudkan....?
mengapa saat aku menangis sedih mereka menatapku sedih...?
mengapa tangisanku dianggap bukanlah sebuah kebahagiaan...?
mengapa tingkah manusia begitu aneh....?

mengapa...?
jawablah saya...
karena yang saya tau bahagia itu adalah titik-titik air mata....


kamar sunyi, 2011

Rabu, 05 Oktober 2011

UJIAN KESABARAN OLEH SEBATANG LENGKUAS




Tadi pagi amak (nenek) memintaku untuk membuatkannya gulai ijo cabe rawit ikan mas. Amak yang sedang terbaring di tempat tidur, sudah berkali-kali memanggilku dari kamarnya, agar aku segera membuatkan gulai yang merupakan salah satu menu favorit keluarga. Aku yang saat itu tengah sibuk menatap layar komputer tak kuasa menolak permintaan amak yang memang saat ini sedang sakit. maka bersegeralah aku pergi untuk mengukur kelapa dan juga mempersiapkan segala macam rempah-rempahnya mulai dari kunyit, serai, jahe, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, asam kandis, dan ruku-ruku.

Untuk jahe, kunyit, bawang putih, bawang merah, semuannya digiling. Tapi, kurasa ada satu rempah yang ketinggalan. Setelah kuingat, barulah aku sadar bahwa aku telah melupakan lengkuas. Aku ingat kata amak,, bahwa lengkuas akan membuat gulai semakin enak dan wangi.

Kuperiksa kotak tempat rempah, namun tak satupun lengkuas yang dapat kutemukan. Kemudian aku berlari menuju amak.

“ mak, lengkuas habis”

“ carilah di parak, di tepi pagar samping rumah”

Ya ampun, sampai sekarang aku tak tau sama sekali bentuk dan wujud dari batang lengkuas. Yang aku tau lengkuas itu termasuk tanaman umbi akar sama seperti jehe dan kunyit.

“mak, pa tidak tau bentuk lengkuas itu seperti apa? “

“ ah, cari saja, kalau ada seperti bau lengkuas, berarti itulah dia.”

“ baiklah mak, akan pa temukan lengkuas itu. pa ambil pisau dulu”

“ eit, tunggu pa. jangan pakai pisau. pakai ladiang. Lengkuas itu keras”

Secepat kilat, aku berlari pula ke samping rumah. Aku masih dilanda bingung. Di antara banyak tumbuhan di parak, manakah dia batang lengkuas. Dua mataku sibuk mencari-cari ke sekeliling parak. Hingga akhirnya mataku tertumbuk pada setumpuk batang berdaun panjang. Ah, mungkin ini dia. Segera kucabut. Kuambil umbinya. Lalu kudekatkan ke hidungku untuk mendeteksi baunya. Kupikir sepertinya memang ini bau lengkuas. Tapi, kok umbinya agak beda ya. Ah, tidak apa-apalah yang penting dia kan lengkuas.

Aku membawakannya kepada amak, dengan wajah yang penuh puas aku berkata pada amak.
“ ini mak, cobalah amak liat dulu. Betul kan ini lengkuas?”

“ upa.. upa.. ini bukan lengkuas”

“ tapi baunya kan sama tu mak”

“ tidak, bukan ini, coba cari lagi”

Untuk kali pertama kesabaranku di uji. Aku tidak habis pikir. Kenapa umbi-umbian di samping rumah hampir sama saja baunya. Benar-benar aneh. Dengan gontai kucoba melanjutkan pencarian. Kutelusuri tepian pagar yang mencari pembatas parak dengan bandar kecil di samping rumah. Kutemukan satu koloni tumbuhan umbi, dengan ciri-ciri daun memanjang. Kupegang batangnya, waw keras sekali. Kucoba mencabut batang itu, wah kian keras. Benar, tidak salah lagi, ini memang lengkuas. Aku ingat betul, ketika aku menggiling lengkuas, pasti membutuhkan tenaga ekstra karena lengkuas itu keras. Untuk menggilingnya saja aku harus memotongnya tipis-tipis biar mudah digiling.

Kukali tanah dengan ladiang, kukali terus. Tapi sayang, umbinya tak juga kelihatan. Aku masih mau berusaha, kukali lagi. Eh, batangnya copot. Aku jadi kehilangan pegangan. Kukaiskan tanganku ke tanah tempat umbi itu berada. Tapi sama sekali belum terasa umbinya. Aku makin bosan. Memangnya sejauh apa umbi lengkuas itu bersembunyi di dalam tanah. Aku benar heran.

Akhirnya, kutinggalkan batang lengkuas itu dengan penuh kesal. Biarlah, aku yakin tanpa lengkuas pun gulaiku akan tetap terasa enak. Esok, aku akan mengalahkan lengkuas-lengkuas itu. akan kucabuti dia dan aku ambil umbinya .
hmm.. Lucu juga ya, kesabaranku di uji oleh sebatang lengkuas..

* * *pariaman 2011

Selasa, 28 Juni 2011

LEBAY

LEBAY. Jika dieja maka akan menjadi L-E-B-A-Y. Ya. Tepat sekali. Jika ada ujian mengeja, mungkin anda akan mendapat nilai sempurna. 100.

Lebay adalah salah satu kata yang tidak aku suka. Garis bawahi, AKU. Tapi mungkin juga bagi orang lain. setauku, kata ini bukanlah kata lama. tapi kata yang baru-baru ini muncul dan mencuat ke permukaan. kita juga tidak mengetahui secara pasti siapa yang mengucapkan kata itu pertama kali. jika tau, mungkin akulah orang pertama kali yang akan mengatai-

Minggu, 19 Desember 2010

follow your heart


Mencoba temukan cahaya

diantara puing reruntuhan iman

Adakah jalan yang tak berduri?

Akankah telapak penuh luka

mampu hantarkanku ketitik terakhir perjuangan..

Langkah terseok, alih-alih jatuh ke perapian yang mengobar

dimana penyanggaku?

Aku lupa telah tinggalkannya tikaku terhanyut dalam semunya badai bahagia