Tampilkan postingan dengan label butiran sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label butiran sajak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

MEKURIU

kau semburat dalam cahaya
perlahan, perlahan menauti
sekeping hati di dadanya
kau lontarkan baitbait kata
merdu,haru, mendayu membiru

malam, ketika itu membisik telingaku
adalah kau
satu potongan puzzle
yang belum mampu kupecahkan
dalam satu dasawarsa silam

JANUARI DI PENGHUJUNG



januariku, adalah kumpulan keyakinan
yang menyatu dalam nadanada kehidupan

resapi lagu-lagu ria, gembira dan sendu

inilah aku…

aku, aku dan januariku yang telah di penghujung


2012

Selasa, 03 Januari 2012

dengan puisi, aku

dengan puisi aku bernyanyi

sampai senja umurku nanti

dengan puisi aku bercinta

batas cakrawala

dengan puisi aku mengenang

keabadian yang akan datang

dengan puisi aku menangis

jarum waktu bila kejam mengiris

dengan puisi aku mengutuk

dengan puisi aku berdoa

perkenankanlah kiranya

*taufik ismail*

Senin, 12 Desember 2011

TOLONG¬ –TOLONGLAH, DUHAI..

Sekarang, esok, dan selanjutnya. Hidup ini akan selalu membuatku menangis. Dalam ruang bebas, atau berbatas. Dalam keramaian atau pun kesendirian, karena aku akan tetap sepi dan tersiksa di penghujung jalan ini. Kau takkan mampu mencipta tawa pada bibirku yang terkatup. Bibir yang tak mampu lagi terbuka sebab rahangku telah lelah mengoceh. Mengaduk-aduk kesenangan di batin saudaraku.

Baik. Baik. Mendekatlah kau. Beri aku sapu tangan merah jambumu. Tolong. Usap lelehan air yang terus membanjir di kelopak mataku. Ayo, aku mandah saja kali ini.

Tenanglah. Jangan pula kau menangis. Bukan salahmu. Hanya aku. Kebodohan demi kebodohan menindihku dalam gelimang noda. Memutarbalikkan jalan hidupku pada taman bunga yang gersang. Hingga kesegaran dan keindahan menjauh dari tempat manapun aku berada.

Duhai.. takkan kualamatkan. Rintih kedukaanku ini telah mengulum semua kebahagiaan yang ada. Memunculkan bintik-bintik hitam di sekujur gumpalan daging di rongga dadaku. Entah, mungkin mulai membusuk. Sebab darah-darah mulai mendesak keluar di mulutku yang terkatup ini. dan dadaku mulai merasakan sakit. Teramat sakit.

Tolong-tolonglah. Kepada siapa saja. Singkirkan sekat yang menyumbat aliran darah bersihku. Aku tau bahwa terlalu banyak kotor an bersarang. Gunjing. Asung. Fitnah. Benar telah meresap dalam tiap inci sel dalam tubuhku ini.

Rabu, 12 Oktober 2011

azzamku azzammu


sekarang aku telah boleh memasuki relung dadamu

mendayung sampan di atas aliran darahmu yang merah

biarkan aku mencapai ruangan terdalam di hatimu

menghiasinya, lalu aku tidur di dalamnya


jangan sekali-kali kau biarkan orang lain

menyelinap melewati celah-celah rahasia kita

karena kau telah berjanji padaku, robbku,orang tuaku

dan malaikat pun telah mencatatnya pada lembaran langit


mari kita bangun istana megah pada halaman jiwa kita

istana yang kuat, kokoh

tiang-tiangnya harus melebihi kekuatan baja

itulah ketaqwaan...


jika aku lemah, kuatkan aku dengan kata-kata lembutmu

ingatkan aku melalui keindahan firmanNYA

lalu dekaplah aku karena kecintaanMU pada Tuhanmu


terima kasih, karena kau hadir menumbuhkan pohon-pohon iman

di hatiku


kamar sunyi, 2011
(ulfa yassirli)

Rebah Di sisi Tuhan

pagi telah kutinggalkan

siang telah kucampakkan

aku berlari menjauh bersama angin

mengepak sayap di awang-awang

aku terbang

menembus batas waktu


malam telah menanti

kupeluk bingkai malam

aku merebah dipundaknya

"malam, maukah kau temani aku bertemu menghadapNYA"

malam mengangguk


dia hidupkan kesunyian

dia pasangkan tangga-tangga kecil ke badan langit

hingga jalan-jalan kedamaian membentang

lalu aku naiki tangga kecil itu perlahan

perlahan...

perlahan...

perlahan...

hingga aku rebah di sisi tuhan..


kamar sunyi, 2011
(ulfa yassirli)

Dendang Syair Jalanan


Dendang syair berdendang.

Antara pedih, luka, tawa-tawa kecil.

pengusir duka yang menari di sekitaran.

Dendanglah, syair berdendang

kami terbenam dalam air mata darah.

kami berteriak, kami memekik.

Kami terpasung dalam tekanan angka-angka.

Kau para penguasa,

betapa sesimpuhsesimpuh kaki

berjejer di badan jalan.

Teriakan lapar

untuk telinga yang berpura-pura tuli



padang, 2011

Senin, 10 Oktober 2011

menanti musim semi

Berguguranlah,
Seperti bergugurnya dedaunan
Jikalau telah datang pula masanya.
Sekali-sekali tidak!
Tak kubiarkan hati menyimpan rasa
yang tlah kering lalu membusuk.
beriringan dengan bergantinya waktu dan masa
Mencipta perih. berujung tangis
Campakkanlah
seraya kutunggu musim semi datang, indah menyapa

padang, 2010

Minggu, 09 Januari 2011

TUHAN

Beri aku rumah dikolong langit

Di kerak bumi aku bosan

Tak lagi kunyaman

Darah-darah berseliweran

Aku benci menginjak darah

Merah

berani tak berhati

Beri aku rumah

Jangan lagi ditanah

Tanah penuh nanah

Tanah penuh darah

Padang , 28 November 2010

(jangan lagi bunuh mereka)

Senin, 27 Desember 2010

puisi aneh

senang
susah

senyum
menangis

duka
ria

lara
gembira

bergantilah
tak henti

marah
tak
marah
tak
marah
tak

tak marah

Minggu, 19 Desember 2010

Diam


Mengurai langkah di kesendirian

Mengikuti ruas jalan yang kian basah

Hati masih membawa resah

Sebuah ironi pekak di telinga

Tak tau apa yang salah

Hanya tanya mengapa

Pula tak ada yang berani bertanya

Dan biarlah diam terus bertahta

Padang, 2010

Kamis, 16 Desember 2010

seberkas keinginan

beri aku segelas cinta

kan kuminum pelepas dahaga

beri aku segenggam sayang

kan kutebar diantara relung jiwaku yang gersang

beri aku setitik rindu

karena aku ingin merasa ada


(jangan tinggalkan aku, sobat)